https://www.effectivegatecpm.com/abyzmvm3a7?key=34e909d2a4b0c29f9b47231e352a10aa Tradisi Pengerupukan: Persiapan Menyambut Hari Raya Nyepi - Payana Dewa
Notifikasi

Loading…

Tradisi Pengerupukan: Persiapan Menyambut Hari Raya Nyepi

Bali memang kaya akan budaya dan tradisi yang dikenal hingga ke mancanegara. Tidak bisa dipungkiri bahwa Bali memang terbiasa melaksanakan berbagai upacara terkait dnegan kebudayaan dan keagaamaan yang memiliki makna tersendiri bagi masyarakat Bali. Tradisi yang masih populer dan bertahan sampai saat ini di Bali adalah Tradisi Pengerupukan yang diadakan sebelum menyambut hari raya Nyepi bagi umat Hindu.

Yuk, simak lebih lanjut bagaimana tradisi Pengerupukan diadakan di Bali!

Makna Upacara Pengerupukan

Tradisi Pengerupukan

Pengerupukan merupakan upacara yang begitu sakral bagi umat Hindu yang wajib dilaksanakan dengan tradisi lainnya yang menyertai sebelum menyambut hari raya Nyepi. Upacara Pengerupukan merupakan upacara pemujaan terhadap Tuhan atau para Dewa sebagai salah salah satu wujud yadnya yang dikenal dengan istilah “Bhuta Yadnya” berarti korban suci yang dipersembahkan kepada para Bhuta (unsur alam) yang meliputi air, api, udara, tanah maupun cahaya.

Upacara Pengerupukan atau Ngerupuk diadakan berdasarkan perhitungan tahun Saka Kalender Bali yang dilaksanakan pada Tilem Kesanga (Bulan Kesembilan) yang mana bulan ini menandakan hari terakhir Sasih Kesanga dan keesokan harinya ketika perayaan hari raya Nyepi sudah masuk sebagai hari pertama Sasih Kadasa (Bulan Kesepuluh). Bulan mati (Tilem) pada sasih kesanga dianggap sebagai hari bersucinya para Dewa yang bertempat di lautan agar menikmati inti hakikat air suci sebagai kehidupan yang abadi. Hingga pada hari itu, hendaknya umat Hindu mengantarkan pujian-pujian untuk para Dewa.

Tradisi Pengerupukan ini bermakna sebagai pengusiran para Bhuta Kala dari pekarangan rumah dan lingkungan sekitar masyarakat yang dilakukan pada sore hari (Shandy Kala). Tujuan upacara Pengerupukan ini adalah untuk membersihkan Jgad Bhuana Alit dan Bhuana Agung yang berlandaskan pada konsep Tri Hita Karana yaitu menyelaraskan Tuhan yang Maha Kuasa, manusia dan alam. Sehingga pada hari raya Nyepi bisa dinetralisir kekuatan-kekuatan negatif yang akan mencoba mengacaukan perayaan tersebut.

Melakukan Doa Bersama

Dalam upacara Pengerupukan ini akan dilakukan doa bersama untuk meminta perlindungan pada Tuhan disertai dengan persembahan sesajenan. Upacara Pengerupukan dilakukan dengan cara menyebar nasi tawur dan air suci (Nunas Tirta) ke rumah dan perkarangan sekitar lingkungan rumah dengan memukul benda apa saja yang bisa menimbulkan suara gaduh, misalnya petungan bamboo atau bahan lainnya.

Kemudian seluruh penghuni rumah mengelilingi area tempat tinggal dengan menghidupkan sumber api dan memukul peralatan sehingga mengeluarkan bunyi yang sangat keras dan gaduh. Hal ini dilakukan agar mengusir Bhuta Kala yang berada di rumah, pekarangan dan lingkungan sekitar sehingga bisa menetralisir kekuatan-kekuatan negatif agar tidak mengganggu kehidupan manusia.

Pawai Ogoh-Ogoh dalam Tradisi Pengerupukan

Pengerupukan tidak lengkap rasanya jika tidak diadakan Pawai Ogoh-Ogoh yang begitu meriah. Pawai Ogoh-Ogoh ini selalu hadir beriringan dengan Pengerupukan sebelum menyambut hari raya Nyepi. Meski bukan sarana wajib yang harus dilakukan selama Pengerupukan, namun Ogoh-Ogoh menjadi tradisi paling dinanti-nantikan oleh masyarakat, apalagi para wisatawan yang ikut menyaksikan upacara Pengerupukan ini.

Pengarakan atau pawai Ogoh-Ogoh ini dilaksanakan pada sore hingga malam hari setelah melaksanakan upacara Mecaru disekitaran rumah dan lingkungan sekitar. Biasanya yang melaksanakan pawai Ogoh-Ogoh ini adalah pemuda pemudi yang ada di setiap Sekaa Teruna Teruni (STT) di masing-masing adat.

Ogoh-Ogoh merupakan patung yang berukuran besar dan divisualkan bertubuh besar, kuku panjang dan berwajah seram. Patung besar ini menggambarkan kepribadian dan sosok dari Bhuta Kala.

Ogoh-Ogoh nantinya akan diarak untuk berkeliling desa dan diiringi dengan obor dan musik dari gamelan. Setelah diarah berkeliling desa, maka Ogoh-Ogoh akan dimusnahkan dengan cara membakar Ogoh-Ogoh ini. Pembakaran Ogoh-Ogoh ini dilambangkan sebagai upaya dalam memusnahkan dan mengusir aura kejahatan-kejahatan yang disimbolkan dengan Bhuta Kala di bumi ini.

Fakta Menarik dari Pawai Ogoh-Ogoh dalam Upacara Pengerupukan

Ogoh-Ogoh memang tidak menjadi sarana wajib yang ada dalam upacara Pengerupukan namun menjadi yang paling dinantikan bagi masyarakat dan para wisatawan. Jika ditelisik lebih lanjut, Ogoh-Ogoh mulai dikenal luas dalam rangkaian Nyepi di Bali sejak tahun 1980-an. Sejak saat itu, Ogoh-Ogoh menjadi sangat populer dimasyarakat.

Pada awalnya, Ogoh-Ogoh hanya terbuat dari kerangka kayu dan bambu yang kemudian dihiasi dengan kertas-kertas. Namun, perkembangan zaman pun, masyarakat Bali mulai membuat Ogoh-Ogoh dari kerangka besi dan bambu yang dianyam serta dibungkus dengan Styrofoam.

Begitu sangat populernya sang Ogoh-Ogoh ini, bahkan memantik semangat masyarakat untuk terus berkreativitas dalam membuat Ogoh-Ogoh yang begitu menarik. Sehingga muncullah perlombaan Ogoh-Ogoh. Tidak hanya di arah lalu dimusnahkan melainkan jga di lombakan.

Wah, begitu banyak tradisi Bali yang menarik untuk kamu ikuti dan saksikan. Bahkan Tradisi Pengerupukan ini menjadi populer di mata masyarakat dan wisatawan sehingga Pengerupukan bisa dikatakan sebagai hari menyambut Tahun Baru di Hindu.

Post a Comment