Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Meluasan Banjir Air Mata: Ibu Bertemu Anaknya yang Sudah Meninggal Lewat Teknologi VR. Siapin Tisu!

Istri yang ditinggal suaminya meninggal disebut janda. Suami yang ditinggal istrinya meninggal disebut duda. Anak yang ditinggal orangtuanya meninggal disebut yatim piatu. Namun, nggak ada istilah spesifik untuk menyebut orangtua yang ditinggal mati oleh anaknya. Dalam Bahasa Inggris juga nggak ada istilah khususnya. Mungkin karena nggak ada yang bisa menggambarkan betapa sakit dan perihnya perasaan orangtua saat anaknya meninggal dunia, hingga nggak ada kata-kata yang bisa mewakilkan.


Kira-kira itulah yang dirasakan seorang ibu bernama Jang Ji-sung. Ia harus rela kehilangan anak ketiganya, Nayeon, 3 tahun lalu, saat anaknya masih berusia 6 tahun (7 tahun kalau usia Korea). Nayeon diketahui mengidap penyakit langka sampai ajal harus menjemputnya. Di tengah rasa kehilangan yang masih begitu terasa, Jang ditawari oleh MBC, perusahaan media Korsel, untuk reuni dengan Nayeon lewat teknologi virtual reality (VR). Video pas mereka reuni bikin seluruh penghuni internet banjir air mata! Di samping itu, nggak sedikit warganet yang kontra soalnya mereka justru khawatir sama kondisi psikologis si ibu. Takutnya makin sulit move on gitu, kan…

MBC “otak” di balik reuni banjir air mata ibu dan anak ini, mendokumentasikan pertemuan mereka lewat sebuah dokumenter berjudul “Meeting You”. Tayangan ini telah disiarkan di Korea Selatan.


Munhwa Broadcasting Corporation (MBC) telah menyiarkan tayangan penuh haru ini di Korea Selatan pada minggu lalu. Cuplikannya yang berdurasi 9 menitan juga sudah diunggah di akun YouTube mereka. Dalam video itu Jang datang bersama suami dan tiga anak mereka yang lain. Jang dipasang kamera VR di kepalanya, alat yang membantunya bertemu Nayeon.

Nayeon yang ia temui memang bukan wujud aslinya sebagai manusia. Nayeon tergambar sebagai model virtual. Meski begitu, model ini dibuat semirip mungkin sama Nayeon lewat perekaman berbagai gerakan anak kecil yang mirip sama Nayeon. Suaranya juga direproduksi dari suara si anak itu dengan rekaman suara Nayeon sebagai dasarnya. Tim MBC juga membuat latar tempat berupa sebuah taman bernama Noeul Park, yang jadi tempat favorit Jang dan Nayeon.

Dialog-dialog yang tercipta di antara mereka itu lo… sedih banget berasa nonton drama Korea! Nayeon diketahui meninggal karena sakit langka

Tentu, setiap hari.”
Ibu, apakah kau memikirkan aku?”
Aku kangen sekali sama ibu.”
Ibu juga… Nayeon-ku… Nayeon-ku yang cantik… Ibu ingin memelukmu…”
Ibu, apakah aku terlihat cantik?”
 Kamu sangat cantik Nayeon-ku.”
Cupp.. cupp.. coba yang udah nangis dihapus dulu air matanya. Selain cuplikan dialog di atas, masih banyak lagi dialog lain yang sukses bikin penonton mewek. Apalagi dari berita yang beredar, Nayeon meninggal karena sakit langka, nama penyakitnya haemochromatosis. Penyakit itu terjadi saat tubuh menyerap zat besi terlalu banyak, sampai bisa bikin overload dan jadi merusak organ-organ penting. 
Nayeon pun meninggal di usia yang masih sangat muda. Kematian Nayeon tentu jadi pukulan berat bagi orangtuanya, terutama ibunya yang telah mengandung dan melahirkannya ke dunia.

Pertemuan virtual antara Jang dan Nayeon rupanya juga banyak menimbulkan kontroversi. Nggak sedikit publik yang berpendapat kalau reuni itu justru bikin luka batin Jang semakin parah, atau membuka lagi luka lama.


MBC sebenarnya memiliki tujuan yang mulia, yakni untuk membangkitkan kenangan indah untuk ibu dan keluarga Nayeon. Sehingga dengan begitu mereka bisa memulihkan lukanya dan menghilangkan perasaan bersalah dari hatinya. Namun rupanya, nggak semua orang setuju. Banyak publik beranggapan bahwa pertemuan virtual itu justru bisa membuka lagi luka lama yang mungkin sebelumnya sudah tertutup rapat. Jang dikhawatirkan bakal makin gagal move on. Walau lewat wawancara, Jang mengaku dirinya baik-baik saja setelah pertemuan itu, tapi tetep aja sih, siapa yang tahu apa yang ia rasakan dari dalam lubuk hati terdalam?

Ilmu psikologi juga belum bisa menjelaskan, apa dampak dari reuni semacam itu terhadap kondisi mental si ibu. Dr. Blay Whitby, ahli etika teknologi dari University of Sussex, reuni dengan orang yang sudah meninggal lewat teknologi VR masih cenderung baru dan efek psikologi jangka panjangnya belum diketahui. Memang perlu studi lebih lanjut sih. Tapi kalau harus dipertemukan dengan keluarga yang sudah meninggal dengan cara seperti itu, ehm, kok kayaknya no, thank you deh… Takut bikin nggak bisa tidur gara-gara sedih 🙁 Kalau kamu gimana, kira-kira mau nggak reuni sama ibu, ayah, adik, kakak, nenek, kakek, atau siapapun yang sudah meninggal?

Berlangganan via Email