Notifikasi

Loading…

Disetiap Langkahku, Selalu Ada Doa Ibu



Apakah Anda punya momen yang tak terlupakan bersama ibu? Memiliki sosok ibu yang inspiratif dan memberi berbagai pengalaman berharga dalam hidup? Seorang ibu merupakan orang yang paling berjasa dan istimewa dalam hidup kita. Kita semua pasti memiliki kisah yang tak terlupakan dan paling berkesan bersama ibu. Seperti kisah Sahabat payanadewa.com yang setia membaca tulisan kami.

Entah apa jadinya bila dalam setiap langkah perjalananku bila tanpa seorang ibu. Sebenarnya aku bukan orang yang terbuka dengan mudah bercerita semua hal pada ibu, tapi tanpa bercerita pun ibu seolah tahu apa yang kurasakan apa yang kukhawatirkan, hanya dari melihat raut muka atau kebiasaanku. Sebagai seorang wanita yang masih lajang, kadang aku sering berpikir, semua wanita semuanya akan menjadi ibu tapi kita di sekolah tidak dididik atau diajarkan menjadi ibu. Kadang aku selalu salut dengan cara berpikir cepat, penyelesaian masalah ketegaran dan kesabaran seorang ibu.

Rasanya aku ingin selalu bersyukur dan berterima kasih pada ibu dalam setiap detik dan menit yang kulalui. Saat aku mengalami masa berat-beratnya dalam hidup yang diawali dari proses PKL di kampusku, saat yang lainnya dengan gampangnya menemukan tempat PKL dan segera dapat berangkat praktik. Aku harus tujuh kali ditolak oleh tempat yang kupilih. Rasanya aku ingin menangis kala itu, tapi ibu selalu mendampingi aku, mengantarkan aku mencari tempat PKL. Di saat aku hampir menyerah, ibu dengan sukarela mencarikan tempat dan menelepon satu per satu tempat yang bahkan ibuku sendiri tidak paham apa pun dengan duniaku. Dan atas dorongan dan doa ibuku akhirnya aku dapat tempat PKL.
Disaat PKL telah dapat kulewati saatnya aku melakukan koasistensi. 

Aku sebenarnya adalah anak yang pemalu, tertutup, dan cenderung susah berkomunikasi. Kebetulan aku mendapat kesempatan terlebih dahulu untuk koasistensi bersama kakak tingkat yang sama sekali aku tidak mengenalnya dan asing sekali rasanya berada di lingkungan itu. Aku hampir melepaskan kesempatan itu yang sebenarnya sangat diimpikan oleh banyak orang lain.

Saat aku menuju tempat pendaftaran, ibuku berpesan kepadaku bahwa sebenarnya kita akan selalu dihadapkan pada pilihan yang mulanya terasa asing, tapi begitu dijalani kita akan merasa terbiasa dan tidak semenakutkan yang dipikirkan. Selain itu, ibuku tidak memaksaku, hanya bilang pilihlahpilihan yang tidak akan membuatmu menyesal telah melakukannnya, setelah kurenungkan selama hampir dua minggu akhirnya, aku melakukan pendaftaran karena setelah kupikir-pikir menunggu untuk bersama teman seangkatanku akan memakan waktu lama dan pasti aku tidak akan sanggup melakukannya.

Selain itu, yang terakir ialah masa terberat yang terjadi dalam hidupku yaitu menjadi pengangguran setelah lulus. Aku baru mendapat pekerjaan setelah 1,5 tahun menunggu. Bagiku itu waktu yang cukup untuk membuat aku hilang kewarasan, hilang harapan. Bagi pengangguran yang di masa sekolah dan kuliah terbiasa banyak kegiatan pasti sangat membuat frustasi.

Ibu Tetap Menyemangatiku saat Aku Menjadi Pengangguran

Hampir 100 lebih lamaran kerja dan puluhan wawancara kulalui demi mendapat pekerjaanku yang sekarang. Setiap aku melihat pengumuman hasil rasanya aku selalu down dan seolah menyalahkan diri sendiri. Sering kali aku berpikir apa yang salah dalam diriku hingga aku selalu mendapatkan penolakan. Tapi sebenarnya yang merasakan kesedihan itu bukan hanya aku, ibuku juga merasakan kesedihan itu tapi tak pernah sekalipun ibu menunjukkan rasa kecewa padaku, dan itu adalah salah satu penyemangat untuk melamar kerja.

Tanpa kusadari ibu juga sering dinyinyirin oleh para tetangga dan saudara, karena boleh dibilang hanya aku yang kuliahnya paling lama dan satu-satunya yang berada di bidang medis. Para tetangga bahkan sering berkata, "Jangan seperti anak si ibu itu yang kuliahnya lama ujung-ujungnya juga di rumah dan nggak kaya," dan membandingkan dengan anak mereka yang tidak sekolah tinggi tapi bisa punya harta benda rumah, tanah, mobil, dan sebagainya. Maklum kultur di desa selalu menilai seseorang dari materinya.

Saat ibuku mendengar itu ibu selalu tersenyum dan selalu bilang padaku, "Jangan mendendam, orang yang mengolok-olok itu tidak tahu perjalanan apa yang telah kamu lalui biarkan saja." Bahkan para saudara juga sering menghina ibuku yang memiliki idealisme yang terlalu tinggi untuk menyekolahkan anaknya hingga sarjana, ujungnya nganggur. Ibuku selalu berkata, "Biar pun aku miskin karena menyekolahkan anakku tidak apa apa yang terpenting sudah memberikan warisan ilmu yang tidak lapuk dan tidak akan bisa dijual belikan daripada kita mewariskan harta yang hanya bikin pertikaian saudara."

Entah seperti apa hati ibuku, yang selalu memandang seseorang dari sisi positif dan tidak pernah lelah mengajarkan hal tersebut kepada anaknya, dan mengajarkan tidak boleh mendendam pada siapapun karena dendam akan merugikan diri sendiri. Ibuku yang membanting tulang untuk menghidupiku yang tidak pernah mengeluh sekalipun meskipun harus mengajar di tiga lokasi yang sama jauhnya demi anak anaknya sekolah, yang tidak pernah sekalipun melupakan kodrat sebagai ibu.

Aku teringat waktu masa sekolah sebelum berangkat ibu akan selalu memasak dan pukul setengah enam pagi semua masakan sudah bisa dinikmati dan tidak pernah membiarkan kami berangkat tanpa sarapan. Aku baru mensyukuri nikmat sarapan saat temanku yang sering mengeluh berangkat sekolah tanpa sarapan dan ibunya berstatus sebagai ibu rumah tangga, sedangkan ibuku sebagai wanita pekerja akan selalu membuatkanku sarapan. Dari situ terasa sekali rasa dedikasi dan pengorbanan seorang ibu, yang pasti itu sangat melelahkan, belum lagi berangkat kerja di pagi buta ibu mengendarai motor menerjang dinginnya udara.