Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Dilematika Transportasi di Bali

DILEMATIKA TRANSPORTASI DI BALI
Foto hanya pemanis, About. 

Sudah lebih dari 10 tahun jasa driver freelance pariwisata (mobil + sopir + bahan bakar) dihargai berkisar Rp. 500.000,- untuk full day tour (8 -10 jam). Kalau dikalkulasikan sewa mobil berkisar Rp.170.000,- kemudian bahan bakar sekitar Rp.150.000,- jadi driver akan dapat uang sekitar Rp. 180.000,- (belum dipotong uang makan dan lain lain).

Itulah kurang lebih gambaran pendapatan mereka dulu. Dengan pekerjaan itu mereka bisa membagi waktu bekerja dan juga menyama mebraya dalam kegiatan adat dan keagamaan sebagai usaha menjaga keajegan seni dan budaya Bali.

Tapi sekarang ditengah kerasnya persaingan dengan moda transportasi berbasis online yang (katanya) super murah, para driver freelance ini harus pintar pintar menyiasati biar tetap bisa bersaing, bahkan ada yg sampai banting harga. Full day tour dengan harga hanya Rp. 350.000,- kadang terpaksa mereka ambil, biar tetap bisa jalan. Sedangkan biaya hidup sudah meningkat drastis jika dibandingkan dengan kondisi 10 tahunan lalu.

Begitu juga taxi konvensional terikat aturan pemerintah tentang penetapan argometer, kuota, dan jenis perijinan lain yang ketat. Mereka harus merogoh duit yang tidak sedikit untuk bisa beroperasi secara legal. Tapi pada akhirnya karena persaingan dengan transportasi online kebanyakan dari mereka hidup segan mati tak mau.

Kemudian banyak yang berfikir dan beralih ikut transportasi online dan ternyata!

Harga tidak selalu murah (tergantung waktu dan zone), kadang lebih mahal dari taxi konvensional.
Kwalifikasi dan standar pengemudi juga tidak jelas (banyak yg tidak tau apa tentang Bali juga minim kemampuan berbahasa asing), tentu akan buruk bagi citra pariwisata.

Sistem perolehan bonus rentan dipermainkan, seringkali pas mau target order dibatasi.

Kuota/jumlah armada dan jenis perijinan tidak jelas. Dampaknya kemacetan makin parah dan pendapatan daerah dari sektor ini tidak maksimal.

Rating tidak hanya dinilai dari kwalitas service tapi juga kwantitas order dan durasi kerja. Orang Bali yang terikat dengan tanggung jawab adat tak akan bisa bekerja maksimal (kecuali bisa fokus kerja dan memilih tidak ikut kegiatan adat). Sementara kita tau adat istiadat, seni dan budaya adalah magnet/komoditas utama pariwisata Bali.

Pada akhirnya ketika dihadapkan pada persaingan seperti ini, mau tidak mau orang Bali yang ikut ambil bagian dalam moda transportasi online akan kalah bersaing karena tidak bisa kerja maksimal (waktu seringkali harus terbentur kegiatan adat). Bertahan sebagai driver freelance/konvensional juga sudah tidak memungkinkan karena kalah bersaing dari segi harga. Jadilah orang Bali serba salah dan kalah di tanah sendiri.

Yang menang adalah para pendatang yang bisa fokus kerja dan dapat duit tanpa tanggung jawab pada keberlangsungan adat istiadat, seni dan budaya sebagai branding wisata Bali. Maaf saya tidak rasis, tapi itulah kenyataannya!

Jangan tanyakan baik atau buruk moda transport online hanya pada pengguna (costumer), karena mereka tentu akan mencari yang paling murah! Tapi pakai logika saja, pengguna (yang sebagian besar adalah wisatawan) adalah golongan berduit.

Dari 10 tahun lalu sudah berapa peningkatan gaji dan pendapatan mereka mengikuti peningkatan biaya hidup. Kenapa mereka yang dimanja dan diberi kemudahan?! Sementara para pekerja jalanan yang notabene orang Bali (penjaga dan pelanjut tradisi) yang menggantungkan hidup dari pariwisata Bali pendapatannya justru harus turun drastis ditengah peningkatan biaya hidup! Kalau diibaratkan menjual lukisan seorang seniman, tapi senimannya perlahan lahan dibunuh. Lalu setelah senimannya mati lukisan apa yang mau dijual lagi?!


Jangan obral murah pariwisata Bali, hanya untuk peningkatan jumlah kunjungan tapi harusnya berorientasai pada usaha peningkatan kwalitas wisatawan. Kebijakan yang hanya terfokus pada peningkatan jumlah wisatawan hanya mendatangkan wisatawan murahan yang menambah beban sosial bagi Bali.

Berlangganan via Email