Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Antara Kritik dan Caci Maki


Adakah yang salah dengan kritik? Adakah yang salah jika yang dikritik adalah penguasa? Tidak dan tidak sama sekali. Tapi akan salah jika yang disampaikan bukanlah kritik melainkan caci maki. Apa beda kritik dan caci maki?

Ini adalah menurut saya, kritik bersandar pada fakta, disampaikan menggunakan logika dan ditujukan untuk membenahi subyek yang dikritiknya.
Sedang caci maki, lebih berisi ungkapan tidak suka, seringnya tendensius, emosional dan menafikkan fakta serta nirlogika.

Saya selalu salut dengan mereka yang tegak berdiri dan lantang menyuarakan kritik pada penguasa. Dibutuhkan kecerdasan untuk merangkai kritik, keberanian untuk menyuarakan ketidaksetujuan dan keteguhan hati menahan konsekuensi yang mungkin datang.

Sayang sekali, tak semua orang paham beda kritik dan caci maki. Lebih parah lagi, caci maki sering disuarakan dalam mimbar berlabel acara keagamaan. Jauh lebih mengerikan, ada saja telinga-telinga yang mau mendengarkan dan bahkan memberi dukungan.

Bangsa ini nampaknya masih punya PR besar mendidikan anak-anaknya untuk bisa membedakan kritik dari caci maki. Kita bersama punya PR besar mendidik bangsa kita untuk bisa menyuarakan kritik secara logis dan berlandas fakta, dan menghindari terjebak caci maki berselimut emosi dan kebencian semata.

PR kita banyak, PR kita panjang, namun justru itu bisa kita jadikan agenda bersama untuk diwujudkan. Demi kita semua, demi Indonesia.


Salam 🙏

Post a Comment for "Antara Kritik dan Caci Maki"