Tradisi Makepung Bali: Atraksi yang Tak Terlupakan dari Sang Kerbau
Bali memang menjadi salah satu Surgawi yang ada di Indonesia dengan bentangan alam yang begitu indah hingga kebudayaan dan tradisi yang mampu memikat hati siapa saja yang melihatnya. Kekayaan alam dan budaya ini menjadikan Pulau Bali dikenal dunia, sehingga tak heran jika para wisatawan luar berbondong-bondong untuk berkunjung ke Bali.
Ditengah gemerlapnya kekayaan budaya dan tradisi di setiap sudut Bali, sebuah tradisi yang begitu meriah menuai banyak perhatian para wisatawan untuk menyaksikan keindahannya. Tradisi ini dikenal dengan Makepung yang berada di Kabupaten Jembrana, Bali. Tradisi yang memperlihatkan sebuah atraksi dari sepasang Kerbau ditengah sawah lengkap dengan cikar (gerobak) yang menampilkan sebuah keindahan spiritual dan kekuatan fisik yang terjalin erat dalam setiap gerakan. Yuk, simak lebih lengkapnya pembahasan Tradisi Makepung yang ada di Bali ini!
Sejarah Makepung Bali
Makepungan dikenal oleh masyarakat Bali sekitar tahun 1920-an yang diawali dengan kegiatan membajak sawah yang dilaksanakan secara gotong royong oleh masyarakat sekitar menggunakan dua ekor kerbau yang menarik bajak lampit dan ditunggangi oleh seorang joki/sais. Kegiatan gotong royong ini menggunakan banyak bajak lampit. Hal inilah yang memunculkan rasa untuk saling mengadu kekuatan kerbau dari masing-masing mereka sehingga terciptalah perlombaan yang dikenal dengan Makepung. Makepung itu sendiri berarti kejar-kejaran. Kejar-kejaran atau saling berkejaran antara kerbau dengan kerbau lainnya menjadikan sebuah perlombaan yang cukup unik.
Tradisi Makepung ini pada awalnya dilaksanakan di tengah sawah berlumpur dengan menggunakan pakaian ala prajurit kerajaan Bali yaitu destar, salendang, celana panjang, salempod, dan sebilah pedang yang terselip dipinggang. Namun, seiring berjalannya waktu, tradisi ini kemudian dilaksanakan di area jalanan sawah sekitar tahun 1960-an dengan dibentuknya organisasi Makepung yang terdiri dari dua kelompok yang bernama Regu Ijo Gading Timur (bendera warna merah) dan Regu Ijo Gading Barat (bendera warna hijau). Pembagian ini berdasarkan pada wilayah masing-masing yang dibatasi oleh sungai Ijo Gading. Sarana yang dipakai bukan lagi sebuah lampit melainkan gerobak/cikar yang berukuran kecil dengan dihiasi ukiran yang menarik.
Dikenalnya Makepung ini dimulai dari Desa Baluk, Desa Banyubiru, dan Desa Kaliakah untuk mengadakan lomba adu lari cepat cikar pengankut padi hasil panen itu, rupanya menarik perhatian buruh-buruh angkut padi dikawasan desa lainnya. Terutama di desa-desa yang tergolong desa tua yang biasanya disebut sebagai Jembrana (Desa Dauhwaru, Desa Batuagung, dan Desa Dangin Tukad). Hal ini akhirnya para masyarakat desa menjadikan Makepung sebagai atraksi perlombaan yang akan diadakan seterusnya. Sehingga tradisi ini menjadi ciri khas Kabupaten Jembrana dengan tradisi agraris masyarakat petani.
Filosofi Tradisi Makepung Bali
Awal munculnya tradisi Makepung yang ada di Kabupaten Jembrana ini hanya bertujuan untuk menciptakan gairah dan semangat kerja dalam mengangkut hasil panen tuan sawah yang dilaksanakan secara bergotong royong. Namun, seiring perkembangannya, Tradisi Makepung ini memiliki makna sebagai ucapan rasa syukur kepada “Ibu Bumi” yang ditandai dengan mengadakan pesta rakyat sebagai penerjemahan rasa gembira dan bentuk lain dari persembahan kepada yang telah memberikan keberasilan didalam panen raya.
Selain itu, Makepung juga memiliki konsepsi dan filosofi tata kehidupan yang ada di Bali yaitu “Tri Hita Karana” yang diterjemahkan dengan hubungan manusia dengan tuhan (parahyangan), hubungan manusia dengan sesama manusia (pawongan), juga hubungan manusia dengan alam lingkungan serta segala isinya (palemahan). Tradisi Makepung ini mengandung demokrasi berupa pengambilan keputusan dengan musyawarah, menjungjung tinggi kejujuran, sportifitas, dan rasa persaudaraan, juga kerja sama.
Pelaksanaan Tradisi Makepung Bali
Pada awalnya, Makepung dilaksanakan seusai panen dan para petani yang memiliki gerobak/cikar membawa padi yang telah dipanen dengan sepasang kerbau yang akan menarik lajunya gerobak di sebidang lahan persawahan yang dimiliki oleh tuan tanah dengan pacuan antara masing-masing masyarakat untuk mencapai siapa yang berhasil untuk sampai terlebih dahulu, dimana nantinya para buruh akan mengantarkan berpikul-pikul padi hasil panen menuju rumah. Hal ini akan dipenuhi dengan sorak sorai penuh rasa gembira.
Seiring berjalannya waktu, Makepung akhirnya menjadi sebuah tradisi perlombaan antara dua kelompok besar yaitu Regu Ijo Gading Barat dan Regu Ijo Gading Timur yang berasal dari wilayah masing-masing yang dibatasi oleh sungai Ijo Gading. Perlombaan ini dilaksanakan dengan sepasang kerbau yang telah dihiasi oleh berbagai macam pernak pernik seperti mahkota yang ada di kepala sang kerbau dan sebuah gerobak kecil di bagian belakang yang akan ditunggangi oleh seorang joki yang berhiaskan ukiran khas Bali. Tak lupa, kerbau akan dihiasi dengan bendera masing-masing.
Atraksi Makepung ini dimulai dengan kerbau yang di pacu sedemikian rupa dengan menggunakan sebuah cambuk atau bahkan tongkat begerigi paku. Lomba ini akan diiringi oleh musik Jegod yang merupakan musik tradisional khas Bumi Makepung Jembrana yang akan diiringi oleh para penari remaja putri. Para Joki juga harus mempunyai keterampilan khusus dalam menyeimbangi pacuan kerbau agar tidak terjatuh dan mengontrol laju pacuan sehingga bisa mengendalikan arena lomba dengan baik.
Tradisi ini akan digelar pada panen raya yang bertepatan pada bulan Juli sampai Oktober setiap tahunnya, mulai dari latihan, pertandingan persahabatan, perebutan piala Bupati (Bupati cup), maupun perebutan piala Gubernur (Gubernur cup).
Pergelaran Makepung ini digelar dalam beberapa sirkuit di Jembrana seperti sirkuit Cerik, Awen, Mertasari dan lainnya. Uniknya, dalam penentuan pemenang, tidak siapa yang mencapai garis finish terlebih dahulu, melainkan ditentukan oleh jarak antar peserta yang biasanya 10 meter, namun jika peserta bisa mengatur jarak dan mempelebar jarak maka peserta kedua menjadi pemenangnya.
Sungguh unik dan penuh meriah atraksi dari sebuah Tradisi Makepung ini, sungguh sangat disayangkan jika kamu tidak melihat pertujukan khas dari Bali ini tentunya.
