https://www.effectivegatecpm.com/abyzmvm3a7?key=34e909d2a4b0c29f9b47231e352a10aa Tradisi Ngoncang Bali, Simbol dari Kebersamaan dan Keharmonisam Masyarakat Bali - Payana Dewa
Notifikasi

Loading…

Tradisi Ngoncang Bali, Simbol dari Kebersamaan dan Keharmonisam Masyarakat Bali

Tradisi ngoncang Bali adalah salah satu tradisi dari Buleleng, Bali yang kini mulai jarang ditemui.

Berbicara tentang tradisi dan budaya di Bali memang tidak ada habisnya. Pulau dewata yang juga memiliki julukan seribu Pura ini adalah salah satu destinasi wisata yang tepat bagi para pecinta tradisi dan budaya nusantara. Salah satu tradisi yang unik dan wajib Anda saksikan saat Anda berkunjung ke Pulau Dewata adalah tradisi Ngoncang Bali.

Meski tradisi ini sulit ditemui, namun tradisi ini tetap lestari dan jejaknya masih ada hingga kini. Anda dapat menikmati tradisi ngoncang Bali dengan mengunjungi Kabupaten Buleleng untuk menikmati pertunjukan unik yang umumnya dilakukan oleh para kaum wanita ini.

tradisi ngoncang bali

Mengenal Tradisi Ngoncang Bali

Tradisi ngoncang Bali merujuk pada aktivitas menumbuk padi pada lesung. Dahulu kala tradisi ini dilaksanakan secara turun temurun oleh masyarakat Bali, khususnya di Kabupaten Buleleng.

Tradisi ngoncang dulunya hanya dilakukan oleh kaum wanita, sebab dahulu kala yang melakukan aktivitas menumbuk padi adalah ibu-ibu. Namun kini, Anda mungkin dapat menyaksikan tradisi ngoncang dimana pria pun ikut terlibat dalam tradisi khas Bali ini.

Meski terbilang langka, namun Anda tetap dapat menjumpai tradisi Ngoncang di Kabupaten Buleleng khususnya di Banjar Pekraman Paketan, keluruhan Paket Agung, Singaraja, Kabupaten Buleleng.

Tradisi Ngoncang sendiri dilaksanakan pada malam gerhana bulan atau pun pada upacara Pitra Yadnya yakni Ngaben.

Menghasilkan Irama yang Indah

Kegiatan tradisi Ngoncang biasa dilakukan secara berkelompok. Satu kelompok terdiri dari lima hingga delapan orang yang memukulkan alu ke dalam lesung. Lesung sendiri adalah alat yang digunakan untuk menumbuk padi menjadi beras pada zaman dahulu. Umumnya lesung dan alu terbuat dari kayu.

Benturan antara alu dan lesung yang dipukulkan secara bergantian menimbulkan sebuah irama dengan ritme dan nada yang indah. Irama yang timbul dari tumbukan alu dan lesung ini memiliki arti yang sakral.

Menaklukan Raksasa Kalarau

Tradisi ngoncang Bali ini merupakan rangkaian dari ritual upacara Pitra Yadnya atau saat ada peristiwa yang berkaitan dengan alam termasuk saat gerhana bulan.

Tertulis dalam sebuah kisah, tradisi ngoncang dipercaya dapat menaklukan raksasa bernama Kalarau yang muncul saat gerhana bulan tiba.

Kalarau merupakan raksasa yang akan memakan bulan sehingga timbul gerhana bulan. Masyarakat pun melakukan upaya untuk menggagalkan aksi kalarau dengan membunyikan alu dan lesung atau dikenang dengan tradisi ngoncang. Konon katanya, alunan nada dari alu dan lesung tersebut mampu membuat raksasa Kalarau mengurungkan niatnya.

Karena dapat menghalau Kalarau, tradisi ini pun diyakini oleh masyarakat mampu menambah aura positif dan menetralisir aura negatif pada pemukiman. 

Tradisi Ngoncang Bali dalam Upacara Ngaben

Selain dilakukan saat datangnya gerhana bulan, tradisi Ngoncang pun kerap dilaksanakan dalam beberapa upacara, salah satunya pada saat Ngaben atau upacara kematian umat Hindu.

Tradisi Ngoncang atau memukul alu pada lesung ini disisipkan saat mayat dimandikan dan ketika mengantarkan mayat ke tempat peristirahatan yang terakhir. 

Tradisi Ngoncang pada rangkaian upacara Ngaben merupakan bentuk komunikasi kepada roh-roh leluhur. Untuk melaksanakan Ngoncang pada upacara Ngaben, para pengayah (pemukul alu dan lumpang) harus menggunakan pakaian adat khusus sebagai bentuk penghormatan dari prosesi tersebut

Makna Tradisi Ngoncang

Aktivitas budaya dan tradisi selalu erat kaitannya dengan makna yang simbolik. Tradisi ngoncang sendiri digambarkan sebagai simbol kebersamaan dan keharmonisan antara manusia dengan Tuhan, manusia dan sesama manusia, hingga wujud harmonis antara manusia dengan lingkungannya, sesuai dengan ajaran agama Hindu yakni Tri Hita Karana.

Tri Hita Karana adalah tiga unsur yang dapat menimbulkan keseimbangan dan kesejahteraan dalam hidup. Ketiga unsur Tri Hita yakni Tuhan Yang Maha Esa, Manusia dan alam adalah unsur utama pembentuk keseimbangan.

Ajaran Tri Hita Karana dalam Agama Hindu adalah upaya untuk membentuk keharmonisan dengan menitikberatkan norma hidup berdampingan, rukun, penuh toleransi dan rasa damai. 

Demikian sekilas tentang tradisi Ngoncang Bali yang seiring dengan Tri Hita Karana. Tidak hanya sarat akan nilai moral, tradisi ini pun menjadi daya tarik wisata Bali yang sangat unik dan sayang untuk dilewatkan.

Post a Comment