https://www.effectivegatecpm.com/abyzmvm3a7?key=34e909d2a4b0c29f9b47231e352a10aa Tradisi Mekare-Kare: Pengertian, Sejarah, Properti, dan Pelaksanaan - Payana Dewa
Notifikasi

Loading…

Tradisi Mekare-Kare: Pengertian, Sejarah, Properti, dan Pelaksanaan

Bali merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang menawarkan keberagaman tradisi dan budaya. Salah satu keberagaman yang wajib dilestarikan yaitu tradisi mekare-kare. Tradisi satu ini juga dikenal dengan nama upacara Perang Pandan.

Penasaran dengan mekare-kare ini? Artikel ini akan membahasnya lengkap untuk Anda. Mulai dari pengertian, sejarah, properti, dan pelaksanaan. Simak sampai selesai ya!

Apa Itu Tradisi Mekare-Kare?

Tradisi Mekare-Kare Pengertian, Sejarah, Properti, dan Pelaksanaan


Mekare-Kare atau upacara Perang Pandan merupakan tradisi yang diselenggarakan sebagai bentuk penghormatan pada Dewa Perang yaitu Dewa Indra. Selain itu, Mekare-Kare juga dilakukan untuk menghormati para leluhur. 

Tradisi satu ini biasanya dilakukan setiap tahun oleh masyarakat di Desa Tenganan, Manggis, Karangasem, Bali yang mayoritas beragama Hindu. Biasanya, Mekare-Kare merupakan bagian dari upacara keagamaan terbesar di Tenganan yaitu upacara Sasih Sembah. 

Sejarah Tradisi Mekare-Kare

Pada awalnya, Mekare-Kare dilakukan sebagai persembahan pada Dewa Indra. Dewa Indra sendiri merupakan Dewa Perang yang melawan Maya Denawa yaitu raja keturunan raksasa.

Maya Denawa adalah raja yang sakti dan sewenang-wenang pada rakyat. Ia melarang para rakyat untuk menyembah Dewa. Karena itu, masyarakat memohon pada Dewa Perang untuk melawan Maya Denawa agar terbebas.

Berkat Dewa Indra, masyarakat pun bisa terbebas dari sifat diktator raja keturunan raksasa tersebut. Kemudian demi menghormati Dewa Indra, masyarakat Bali melakukan tradisi Mekare-Kare

Properti Tradisi Mekare-Kare

Hampir semua tradisi atau adat istiadat yang ada di Indonesia menggunakan properti untuk menggambarkan sejarahnya. Begitu pula dengan Mekare-Kare yang dilaksanakan oleh masyarakat Bali ini.

Nama lain Mekare-Kare adalah Perang Pandan. Jadi, properti utama yang digunakan dalam prosesi upacara adalah senjata pandan berduri. Masyarakat memotong pandan berduri dengan ukuran yang sama.

Kemudian pandan akan diikat pada sebuah gala. Gala sendiri adalah senjata dalam perang. Properti perang kemudian dilengkapi dengan perisai dari rotan sebagai pelindung dari.

Pada umumnya, tradisi Mekare-Kare dilakukan oleh para pria. Pria Bali akan menggunakan sarung (kamen), ikat kepala (udeng), dan selendang (saput). Selain itu, pria yang melakukannya juga tidak mengenakan baju atau hanya bertelanjang dada. 

Waktu Pelaksanaan Tradisi Mekare-Kare

Waktu pelaksanaan tradisi yaitu setiap tahun pada bulan kelima. Namun bukan kalender Masehi yang digunakan, melainkan Kalender Khusus Desa Tenganan Pegringsingan. 

Apabila dilihat pada kalender Masehi, mungkin waktu pelaksanaan dari Mekare-Kare yaitu sekitar bulan Juni atau bulan keenam setiap tahunnya. Pelaksanaan upacara selama dua hari berturut-turut.

Hari pertama dilakukan di Petemu Kaja, sedangkan hari keduanya di depan Bale Agung. Selain itu, biasanya Mekare-Kare dilakukan mulai pukul 2 sore. Masyarakat yang datang melihat biasanya akan memakai kain Tenun Gringsing yaitu pakaian adat khas Tenganan.

Prosesi Tradisi Mekare-Kare

Tradisi Mekare-Kare akan dilakukan oleh dua orang laki-laki. Biasanya, usia laki-laki yang melakukannya yaitu mulai naik dari masa remaja ke dewasa. Seperti namanya, kedua laki-laki tersebut akan berperang di tengah lapangan yang banyak penontonnya.

Prosesi dimulai dengan acara mengelilingi desa untuk memohon keselamatan. Setelah itu, prosesi dilanjutkan dengan ritual minum tuak di daun pisang sebagai gelas. Peserta tradisi yang akan saling menuangkan tuak ke peserta lain.

Selesai minum tuak, peserta akan menuju lapangan untuk memulai prosesi Mekare-Kare. Pemimpin adat akan memberikan aba-aba pada dua peserta yang akan berperang. Jika sudah dimulai, peserta akan saling menyerang.

Ada wasit sebagai penengah seperti layaknya pertandingan olahraga silat. Sembari melaksanakan prosesi Mekare-Kare, akan ada suara gamelan yang mengiringinya. Setelah prosesi selesai, semua peserta akan makan menu ayam betutu bersama-sama. 

Keunikan dan Daya Tarik Tradisi Mekare-Kare

Prosesi tradisi Mekare-Kare memiliki keunikan tersendiri yang menjadi daya tariknya. Setiap tahun, selalu banyak orang-orang di sekitar Tangunan maupun luar desa yang melihat.

Keunikan utamanya yaitu tidak adanya rasa marah, kesal, ataupun menyesal dari para pria yang berperang di lapangan. Semua peserta akan bergembira bersama melakukan tradisi untuk menghormati Dewa Indra atau Dewa Perang.

Demikianlah pembahasan lengkap mengenai tradisi Mekare-Kare atau Upacara Perang Pandan. Sangat unik dan menarik bukan? Setiap tradisi dan budaya di Indonesia memang memiliki daya tarik tersendiri. Mengenal setiap tradisi menjadi salah satu bentuk kecintaan terhadap keberagaman tanah air. Semoga bermanfaat!

Post a Comment