Sejarah dan Makna Tradisi Dewa Mesraman di Klungkung
Berbicara mengenai tradisi yang ada di Bali memang tak ada habisnya. Ada banyak sekali tradisi yang menarik dan unik untuk dibahas, salah satunya adalah tradisi Dewa Mesraman di Klungkung, Bali. Tradisi ini merupakan tradisi ritual keagamaan yang kerap dilakukan oleh masyarakat setempat setiap 6 bulan sekali.
Tradisi Dewa Mesraman ini merupakan bagian dari rangkaian upacara pujawali Pura Panti Timbrah. Hingga saat ini tradisi Dewa Mesraman masih rutin digelar penduduk setempat. Tradisi ini kerap dilakukan saat Saniscara Kliwon wuku Kuningan yang bertepatan di Hari Raya Kuningan.
Sejarah Tradisi Dewa Mesraman di Klungkung
Sama seperti tradisi di Bali pada umumnya, tradisi Dewa Mesraman di Klungkung juga memiliki cerita sejarah dan asal mulanya. Tradisi ini dikaitkan dengan peristiwa perang Klungkung dan Karangasem pada tahun 1750 yang lalu.
Desa Panti Timrah yang merupakan desa di kawasan Karangasem mengirim beberapa penduudknya untuk menjaga perbatasan yang di mana saat ini wilayah tersebut berada di bawah naungan kabupaten Klungkung. Tujuan diutus penduduk tersebut untuk menjaga perbatasan agar tradisi dan budaya setempat tetap terlestarikan.
Dilihat dari filosofinya, Mesraman berasal dari kata mesra (senang-senang secara lahir batin). Hal ini juga terlihat dari para pengayah yang selalu menampilkan kegembiraan pada saat pertunjukkan tradisi Sewa Mesraman berlangsung. Menariknya, para pengayah tradisi tidak pernah berkurang, bahkan anggotanya kerap bertambah dan mereka menjalankannya dengan ikhlas.
Prosesi Tradisi Dewa Mesraman di Klungkung
Kegiatan ini diawali dengan masyarkat yang akan berkumpul di Pura Panti Timrah untuk membawa lawar. Lawar terdiri dari lima jenis, yaitu lawar nangka, kacang, belimbing, dan pepaya. Adapun simbol dari lawar adalag bentuk pemersatu segela perbedaan yang ada di desa.
Setelah lawar selesai akan dilajutkan dengan nunas paica yang berisi lawar jenis lain, seperti lawar nasi dan sate yang terbungkus dengan daun pisang. Pembentukan nunas paica ini melibatkan remaja dan anak-anak yang belum beranjak dewasa. Dilanjut dengan acara makan bersama (megibung) dengan menu nasi, lawar, dan garam. Kegiatan makan bersama ini melibatkan orang dewasa sebagai simbol menyatukan perbedaan sifat dan perilaku penduduk desa.
Tepat pukul 5 sore mulai diadakan acara pesucian 7 jempana ke sungai seganing sebagai sumber air. Tujuan dari kegiatan ini untuk membersihkan jiwa raga para pengayah sebelum dan sesudah acara Dewa Mesraman. Pada saat tiba di jaba, 7 jempana tadi akan disambut dengan tarian rejang dewa. Dan tradisi akan segera dimulai dengan memegang keris di tangan kanan sambil diarak seolah terjadi perang.
Fungsi dan Makna Tradisi Dewa Mesraman di Klungkung
Persatuan tradisi dewa mesraman berfungsi untuk memperkuat rasa solidarotas antar masyarakat setempat. Praktik ritual ini dimaknai sebagai bentuk ritual memohon kesejahteraaan dan persatuan antar saudara, meminta kesuburan alam semesta, dan keharmonisan antara manusia dan makhluk hidup lain dengan alam semesta. Berikut 3 fungsi tradisi dewa mesraman dari berbagai aspek:
1. Fungsi Seni
Seperti yang diketahui, tradisi ini merupakan praktik atraksi dan tarian yang dimaknai sebagai ritual agama yang bersifat sakral dan merupakan adat masyarakat setempat. Bahkan baik itu warga laki-laki, perempuan, anak-anak, hingga orang dewasa ikut berperan aktif dalam kegiatan tradisi ini, Jadi itulah sebabnya tradisi ini akan tetap berlanjut, lestari, dan berkelanjutan.
2. Fungsi Sosial
Dari segi sosial, ritual ini melibatkan seluruh warga. Hal ini terlihat pada saat pemberian tugas yang berdasarkan semangat persatuan dan gotong royong yang sangat kental. Mereka selaku pembawa tradisi warisan budaya yang berupa atraksi, sedangkan selebihnya adalah tarian sakral dewa mesraman.
3. Makna
Dari aspek makna dapat diidentifikasi sebagai solidaritas antar kelompok keturunan warga berdasarkan hubungan kesetaraan. Sebab tradisi ini adalah tradisi turunan. Itulah sebabnya solidaritas kolektif antara sesama kelompok keturunan harus setara dalam praktek ritual pesta makan yang merupakan bagian dari ritual dewa mesraman juga.
Itulah tadi informasi mengenai tradisi Dewa Mesraman di Klungkung. Setiap desa yang ada di Bali pastinya memiliki tradisi yang berbeda, tentunya tradisi tersebut sangat sayang untuk dilewatkan. Jika tertarik, Anda bisa menambah pengalaman melalui tradisi yang satu ini.
