Menjelajahi Kesenian Rangda dan Barong: Pertarungan Mitos
Bali memang terkenal akan kebudayaan, keagaaman dan tradisi yang sangat kental dalam jiwa masyarakatnya. Sehingga tak heran jika banyak kepercayaan dan mitos-mitos yang melahirkan tradisi dan kebudayaan itu sendiri. Salah satu kebudayaan yang lahir dari mitos dan menjadi favorit bagi para wisatawan adalah kesenian Rangda dan Barong yang berwujud pada sebuah tari Barong.
Kesenian Rangda dan Barong melahirkan sebuah kekuatan yang memiliki keseimbangan karena pertarungan ini memiliki keabadian bagaikan dua sisi mata uang koin. Sehingga lahirlah Tarian Barong dari pertarungan mitos ini. penasarankan dengan pertarungan mitos yang melahirkan kesenian tari Barong ini? yuk simak lebih lanjut pesona kesenian yang ada di Bali ini!
Mitologi Rangda dan Barong
Kata “Rangda” memiliki sebuah makna yaitu Janda yang menceritakan seorang ratu Mahendradatta yang membalas dendam kepada raja Dharmodayana karena telah mengasingkannya dari kerajaan. Balas dendam dilakukankan dengan membunuh setengah rakyat dari kerajaan tersebut. Sedangkan kata “Barong” dimaknai sebagai raja dari roh-roh yang memiliki kebaikan dan divisualisasikan sebagai sosok singa yang memiliki taring panjang dan rambut pirang yang lebat serta dianggap sebagai malaikat pelindung bagi umat manusia. Dalam mitologinya, Barong dan Rangda memiliki kekuatan yang seimbang karena keduanya diberikan kekuatan akan keabadian sehingga pertarungan tersebut tidak pernah selesai.
Makna Pertarungan Rangda dan Barong
Dari mitologi tersebut, pertarungan Barong dan Rangda memiliki filosofi dan makna tersendiri yang melahirkan sebuah istilah spiritual terkenal di Bali yaitu Rwa Bhineda yang bermakna sebagai dua perbedaan yang berjalan beriringan dan saling melengkapi dengan baik.
Secara sederhana, cerita dari Barong dan Rangda ini menghadirkan keseimbangan yang memiliki sifat saling bertolak belakang, seperti kebaikan dengan keburukan yang berdampingan satu sama lainnya. Rwa Bhineda mengajarkan bahwa kedua hal yang bertolak belakang tersebut sesungguhnya memiliki keseimbangan yang akan berjalan dengan baik. Sehingga masyarakat Bali memandang bahwa perbedaan bukan sebagai penghalang yang harus ditiadakan melainkan dibuat menjadi saling selaras satu sama lainnya.
Konsep inilah yang dilahirkan dalam kisah Barong dan Rangda yang melambangkan kebaikan dan kejahatan pada hakikatnya berdampingan di dunia ini. Oleh sebab itu, kejahatan dan kebaikan ada satu sama lain dan berjalan selaras.
Lahirnya Tari Barong dari Pertarungan Mitos
Tari Barong merupakan sebuah peninggalan pra-Hindu yang melambangkan pertempuran antara kebaikan dengan keburukan Dari sebuah mitologi Barong dan Rangda melahirkan sebuah tari yang menjadi sebuah cerminan hidup yang melambangkan dua karakter dalam pertempuran yang tiada akhir. Tarian ini melambangkan sebuah pertarungan antara kejahatan dan kebajikan.
Tarian Barong hadir untuk digunakan dalam acara adat dan keagamaan sehingga tari Barong ini bersifat sakral. Masyarakat Bali dahulunya percaya bahwa tari Barong digunakan saat ritual pengusiran penyakit akibat roh jahat. Dalam perkembangannya, Barong memiliki beberapa jenis dengan ciri khas yang menyertainya. Barong Ket (Barong Singa) merupakan jenis Barong yang paling umum ditemukan oleh wisatawan. Barong Buntut merupakan jenis Barong yang hanya menonjolkan bagian depannya sehingga dipentaskan oleh penari tunggal. Adapun jenis Barong lainnya yaitu Barong Landung, Barong Macan, Barong Naga dan Barong Celeng.
Pada umumnya, tarian Barong yang sering ditampilkan adalah Tarian Barong Ket (Singa) yang dibawakan oleh dua orang penari yang dengan lincah beratraksi mengendalikan Barong dan menampilkan gerakan-gerakan secara padu. Barong akan dihiasi bak singa yang dibaluti oleh bulu tebal berwarna putih disekeliling wajahnya dan dihiasi berbagai perhiasan emas dan pecahan-pecahan cermin.
Cerminan Tari Barong
Barong menggunakan sebuah topeng kayu yang terbuat khusus dari pohon yang dianggap sakral oleh masyarakat. Selain itu, ada satu orang yang menjadi Rangda yang dihiasi dengan topeng menyeramkan dengan dua taring runcing yang berada dimulutnya.
Tarian Barong dilaksanakan secara berkeliling dengan diiringi musik tradisional khas Bali seperti gamelan batel, tetamburan dan bahkan baleganjur. Tarian Barong dikemas dalam sebuah drama tradisonal tentang pertempuran antara kebaikan dan keburukan.
Dalam drama tarinya, Barong menangkal sihir dari Rangda yang menguasai dunia. Para pria akan bertarung satu sama lain menggunakan keris belati, namun pada saat Barong datang mereka mengubah arah kerisnya dan menusuk diri mereka sendiri. Para pemain akan kesurupan dan Barong mulai melawan dan mengalahkan Rangda sehingga alam pun kembali seimbang. Aksi pertarungan tersebut diabadikan dalam bentuk tari tradisonal yang dikenal dengan Tari Barong.
Tarian Barong ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan yang hadir dalam pertunjukannya, sehingga tak heran jika Tari Barong terkenal akan keindahan tari dan kisah yang melatarbelakanginya.
