Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Penjor Galungan Dalam Tafsiran


Selamat merayakan Hari Raya Suci Galungan kepada Umat Hindu sedarhma dimanapun Saudara berada, semoga di hari suci ini kita semua diberikan anughrah yang indah dan kedamaian hidup.

Di cerna dari : Ida Pedanda Gede Made Gunung (Almarhum) dan didalam tafsiran saya, semoga Damai

Penjor Galungan Dalam Tafsiran

Untuk judul seperti ini, memang sengaja saja buat seperti itu, sebab akhir-akhir ini Saudara umat Hindu khususnya di Bali, sedang semaraknya membikin penjor untuk galungan, bahkan biaya yang dikeluarkan tidak tanggung-tanggung, lumayan besar bagi ukuran saya sendiri, memang sih itu uang mereka tapi apakah sudah benar dalam menghaturkan persembahan, dan itupun dilakukan tulus ikhlas.

Nah, karena meriahnya dan antusiasnya para saudara kita ini, mengenai pembuatan penjor Galungan ini, saya sangat mengharapkan dapat dimaknai atau paling tidak ditafsir maknanya dikaitakan dengan peningkatan moralitas, untuk memenangkan Dharma.

Ditulisan ini saya akan mencoba menafsir makna penjor tersebut dikaitkan dengan peningkatan moralitas.

Dari swgi Penjor itu, yang paling menyolok adalah bambu yang digunakan sebagai sarana pokok pasti bentuknya melengkung (bengkong muncukne).

Memang itu yang paling menarik perhatian saya, sebab selama yang saya tau penjor itu selalu bambunya begitu.
Kemudian yang kedua di paling ujung dari tali pengikat ujung bambu itu pasti ada sebuah benda hasil kesenian (reringgitan) yang disebut Sampyan. Dari keduanya inilah saya menafsir sebagai berikut;

Manusia hidup harus menggantungkan cita-citanya mungkin lebih tinggi dari langit. Dan setelah cita-citanya itu tercapai jangan lupa dengan asal (yang dibawah).
Contohnya: Seseorang yang bercita-cita menjadi Kepala Desa, menjadi Anggota Dewan dll,itu sangat bagus sekali, namun setelah cita-citanya itu tercapai jangan lupa pada rakyat di bawah, sebab dia dapat mencapai cita-citanya itu karena dukungan (pilihan rakyat). Itulah sebabnya penjor itu selalu mengrunduk melihat kebawah.
Dari segi bahasa saya sendiri, saya menafsir makna penjor itu, seperti ini;

AKU SEKARANG JADI BEGINI (PERBEKEL ATAU ANGGOTA DEWAN MAUPUN LAINNYA) KARENA SAMPYAN.

KALAU TIDAK SAMPYAN MEMILIH SAYA MANA SAYA BISA ADA DISINI, MAKANYA SAYA MENGABDI UNTUK SAMPYAN.

Nah, Itulah sebabnya bambu dipilih menjadi bahan penjor utama dan bambu bengkong kebawah, dan ujungnya ada sampyan. Kalau makna itu dapat diresapi dan juga dipraktikan untuk rakyat maka rakyat akan sangat merasa bahagia memiliki pemimpin yang mampu memenagkan dharma atas adharma di dalam hidupnya.

Demikianlah seklumit tafsir penjor Galungan dari saya, mungkin bagi yang lain beda lagi, tentunya berkaitan dengan peningkatan moral dalam istilah kemenaangan Dharma atas Adharma.
Sekian semoga para pemimpin kita dapat memaknai Penjor di dalam rangka berjuang memenangkan Dharma.

OM SANTIH, SANTIH, SANTIH OM.

Post a Comment for "Penjor Galungan Dalam Tafsiran"