https://www.effectivegatecpm.com/abyzmvm3a7?key=34e909d2a4b0c29f9b47231e352a10aa Mengenal Upacara Keagamaan Unik di Bali: Tradisi Siat Sampian di Bedulu - Payana Dewa
Notifikasi

Loading…

Mengenal Upacara Keagamaan Unik di Bali: Tradisi Siat Sampian di Bedulu

Berkunjung ke Bali tak terlepas dari menyaksikan wisata budaya, termasuk upacara keagamaan. Salah satu yang unik di Bali adalah Tradisi Siat Sampian di Bedulu. Ini merupakan tradisi perang yang sudah ada sejak masa lampau masyarakat di Bali.

Ingin tahu lebih lanjut mengenai tradisi perang Siat Sampian ini? Bacalah artikel ini!

Mengenal Tradisi Siat Sampian di Bedulu

Tradisi Siat Sampian di Bedulu

Kearifan lokal Bali tak ada habisnya. Saat berkunjung ke Gianyar, ada tradisi yang menyimpan makna penting bagi kehidupan masyarakat di Bali. Masyarakat setempat mengenalnya dengan Siat Sampian.

Siat berarti perang. Sedangkan sampian merupakan rangkaian janur yang biasanya untuk upacara keagamaan. Dalam tradisi ini, sampian akan menjadi senjata untuk menyerang lawan dalam siat yang berlangsung.

Siat Sampian merupakan tradisi unik yang rutin di Pura Samuan Tiga, Desa Bedulu, Gianyar, Bali. Biasanya, tradisi ini berlangsung setahun sekali, bertepatan dengan Purnama Jiyestha. Momen itu tepatnya pada bulan 11 kalender Bali, atau sekitar bulan Mei pada kalender Masehi.

Tradisi Siat Sampian di Bedulu akan berlangsung ketika bulan penuh atau purnama. Sehingga tidak heran, tradisi ini menyiratkan makna yang sangat kuat bagi masyarakat setempat, terutama di Desa Bedulu.

Konon, Pura Samuan Tiga merupakan pura peninggalan masa lalu. Pura ini merupakan tonggak sejarah dan tempat bersatunya sekte-sekte yang ada di Bali masa silam.

Pura Samuan Tiga berdiri pada zaman Kerajaan Udayana, sekitar abad ke-10 Masehi. Saat itu, sekte-sekte yang ada di Bali memiliki keyakinan dan pemahaman yang berbeda-beda. Perbedaan antarsekte di Bali itu kemudian membuat mereka rentan akan gesekan.

Pada akhirnya, saat pesamuan (musyawarah) mereka menyepakati bahwa Dewa Tri Murthi sebagai pemujaannya. Mereka membangun Pura Kahyangan Tiga. pada setiap desa Pakraman.

Adapun Tradisi Siat Sampian di Bedulu itu, memiliki hubungan erat dengan sejarah penyatuan sekte yang ada di Bali. Tradisi siat sampian atau perang janur di wilayah Gianyar tersebut biasanya akan berlangsung saat rangkaian upacara Pujawali. Upacara Pujawali atau Piodalan di Pura Samuan Tiga itu berlokasi di areal Jaba Tengah Pura.

Menariknya, perang atau siat dalam tradisi itu menggunakan rangkaian janur atau sampian. Jika biasanya janur menjadi perlengkapan banten (sesajen), maka pada siat berfungsi sebagai senjata. Dalam prosesi tersebut, peserta atau pengayah terdiri dari perempuan dan laki-laki.

Peserta Siat Sampian

Meski peserta Tradisi Siat Sampian di Bedulu terdiri dari laki-laki dan perempuan, namun tidak semua orang bisa ikut. Para pengayah dipilih melalui prosesi atau ritual yang dikenal dengan istilah mapekeling atau pawintenan. Dari sanalah akan tahu siapa saja yang terpilih untuk menjadi pengayah di Pura Samuan Tiga.

Maka dari itu, tidak sembarangan orang bisa terlibat dalam tradisi perang sampian ini. Bahkan  walaupun orang itu masih merupakan penduduk dari Desa Bedulu sekali pun.

Jumlah peserta Tradisi Siat Sampian ini pun berbeda-beda. Jumlah laki-laki biasanya akan lebih banyak, bahkan mencapai ratusan orang. Sedangkan peserta perempuan hanya sekitar 35 orang saja dari Desa Adat Bedulu.

Pengayah Siat Sampian harus dengan ikhlas dan senang hati menjalankan perintah dari Ida Bhatara. Walaupun tidak ada sanksi yang mengikat dalam Tradisi Siat Sampian di Bedulu ini, tak ada peserta yang menolak untuk menjalankannya.

Pelaksanaan Tradisi Siat Sampian di Bedulu

Dalam pelaksanaan Siat Sampian, peserta akan terbagi dalam dua kelompok yang berbeda. Mereka terbagi menjadi kelompok pengayah perempuan (Jro Permas) dan kelompok pengayah laki-laki (Jro Parekan.

Nantinya, perang janur ini berlangsung dua tahap. Peratma dari Jro Permas, kemudian Jro Parekan. Jro Permas punya waktu dari matahari terbit hingga matahari tepat di atas langit, atau sekitar tengah hari.

Mereka akan mengawali Tradisi Siat Sampian di Bedulu dengan menari keliling pura 11 kali searah jarum jam. Kegiatan itu disebut Nampiog. Setelahnya, mereka akan Ngombak atau menirukan gerakan ombak  di Jaba Pura. Jro Permas akan berpegangan lalu mengikuti gerakan maju mundur di berulang kali.

Setelahnya mereka melakukan Ngindang, mengambil sampian untuk memulai perang. Pemenang perang adalah mereka yang dapat memukul lawan sebanyak tiga kali dengan senjata sampian.

Di tahap kedua, giliran Jro Parekan beraksi. Mereka akan memulai Tradisi Siat Sampian di Bedulu dengan Ngombak, lalu lari keliling pura sebanyak tiga kali searah jarum jam. Setelahnya, mereka melakukan muspa atau pesembahyangan.

Setelah persembahyanyan, biasanya para pserta akan kerasukan dan memulai perang. Aturan mainnya sama, hanya saja peserta laki-laki lebih banyak, sehingga waktu perang relatif lebih lama.

Tradisi Siat Sampian di Gianyar ini akan beriringan dengan tabuhan gong dan angklung. Tradisi ini bermakna sebagai penghormatan dan simbol senjata cakra Dewa Wisnu. Dengan Tradisi Siat Sampian ini, masyarakat berharap dapat hidup dengan tentram dan rukun sesama penduduk Desa Bedulu.

Post a Comment