Tradisi Ngedeblag Kemenuh: Sejarah, Makna, Properti, dan Prosesinya
Kemenuh merupakan salah satu nama daerah yang berada di Kecamatan Sukawati, Gianyar, Bali. Di daerah ini, ada yang namanya tradisi Ngedeblag. Namanya sangat unik ya? Tradisi Ngedeblag Kemenuh termasuk tradisi turun temurun yang diselenggarakan secara rutin. Ada keunikan dari tradisi yaitu kostum-kostum yang digunakan mirip dengan perayaan Halloween.
Apa Itu Tradisi Ngedeblag Kemenuh?
Tradisi Ngedeblag merupakan jenis tradisi upacara pesasihan yaitu upacara yang diselenggarakan di sasih atau bulan khusus. Pada saat pelaksanaannya, ada banyak suara-suara bising.
Mulai dari suara gamelan hingga suara dari masyarakat yang bersuka cita. Berawal dari fakta tersebut, tradisi ini kemudian dikenal dengan istilah Ngedeblag yang masih ada sampai sekarang.
Sejarah Tradisi Ngedeblag
Sejarah atau awal mula tradisi Ngedeblag bisa dibilang cukup panjang. Menurut sejarah, tradisi Ngedeblag Kemenuh berawal dari keluarga brahmana wangsa Kemenuh yang tinggal atau menetap di kawasan Desa Tegal Wanasari.
Brahmana yang bernama Ida Nyoman Kemenuh tersebut sangat bingung. Pasalnya, keluarganya mendapatkan wabah penyakit yang sangat berbahaya. Bahkan penyakit tersebut membuat kedua orang tuanya meninggal dunia.
Wabah tersebut ternyata tidak hanya mengancam keluarga Ida Nyoman Kemenuh saja. Tapi juga meningkat hingga mengancam keselamatan warga desa. Akhirnya, Ida Nyoman Kemenuh melakukan ritual tapa semedi.
Tujuan dari tapa semedi yang dilakukan Ida Nyoman Kemenuh yaitu memohon petunjuk pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Ia meminta petunjuk dan bantuan agar warga Wanasari Kemenuh tidak mendapatkan ancaman penyakit yang bisa merenggut nyawa.
Makna dan Fungsi Tradisi Ngedeblag
Banyaknya tradisi yang dilakukan di Bali bukan tanpa alasan. Setiap tradisi pasti memiliki makna dan fungsinya masing-masing. Termasuk tradisi Ngedeblag yang berlangsung di desa Kemenuh, Bali.
Adanya bencana di masa lalu bukan hanya dari ancaman penyakit saja. Namun juga dari bencana alam seperti tanah longsor, banjir, dan lain sebagainya.
Nah, tradisi Ngedeblag ini bertujuan untuk membersihkan bhuana agung (alam semesta) dan bhuana alit (diri manusia). Sehingga, desa Kemenuh yang makmur bisa menghindari berbagai macam bencana. Adanya tradisi Ngedeblag juga menjadi wujud bakti pada Ida Sesuhunan dan para leluhur yang telah melestarikan desa.
Bukan hanya menghindari bencana saja, tradisi ini juga bisa mempererat rasa persaudaraan antar masyarakat. Pasalnya tradisi Ngedeblag dilakukan oleh semua masyarakat Desa Kemenuh.
Dalam pelaksanaannya, semua masyarakat dari usia muda sampai tua serta dari perempuan sampai laki-laki bergotong royong untuk mensukseskan acara. Semua tradisi yang memiliki nilai luhur harus dijaga. Bukan hanya Bali saja, tapi seluruh nusantara.
Properti yang Digunakan
Keunikan utama dari tradisi Ngedeblag Kemenuh adalah properti yang digunakan. Tradisi ini mengharuskan peserta mengelilingi desa untuk menghilangkan kekuatan negatif. Namun bukan hanya berjalan biasa saja, peserta akan menggunakan kostum-kostum unik.
Bahkan banyak orang yang mengatakan jika kostum tersebut mirip perayaan Halloween karena terlihat menyeramkan. Busana Halloween digunakan pada perayaan tradisi Ngedeblag di bulan kelima. Sementara pada bulan keenam dan ketujuh, masyarakat menggunakan pakaian adat biasa, tidak menyeramkan seperti perayaan Halloween.
Anak-anak yang mengikuti tradisi Ngedeblag akan membawa pelepah enau sebagai lambang hutan. Sedangkan pria dewasa membawa peralatan yang bisa mengeluarkan bunyi. Tambahan iringan gamelan menyempurnakan penyelenggaraan acara satu ini.
Prosesi Tradisi Ngedeblag Kemenuh
Tradisi Ngedeblag diselenggarakan tiga kali dalam satu tahun yaitu bulan kelima, keenam, dan ketujuh. Harinya yaitu Kajeng Kliwon mulai pukul 12.00 WITA di desa Kemenuh.
Prosesi dimulai dengan menghaturkan Pakeling yaitu memberitahu Ida Sang Hyang Widhi bahwa desa akan mengadakan tradisi Ngedeblag. Selanjutnya, peserta sekaligus Ida Ratu Agung berkeliling desa membawa air suci.
Tidak lupa ada barong sakral yang diarak bersama dengan penduduk desa. Semua peralatan dan bunyi-bunyian seperti gamelan akan mengikuti setiap langkah perjalanan penduduk desa. Biasanya, akan ada ibu-ibu menyambut dengan membawa sesajen. Hal tersebut adalah persembahan untuk Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Nah, itulah pembahasan mengenai salah satu tradisi yang ada di Kemenuh, Bali. Tradisi Ngedeblag Kemenuh merupakan tradisi yang sangat unik. Keunikan itulah yang juga menjadi daya tarik di mata masyarakat maupun wisatawan yang datang ke Bali. Apa Anda juga tertarik melihatnya?
