https://www.effectivegatecpm.com/abyzmvm3a7?key=34e909d2a4b0c29f9b47231e352a10aa Tradisi Megoak-goakan di Buleleng, Permainan Tradisional Bali yang Unik - Payana Dewa
Notifikasi

Loading…

Tradisi Megoak-goakan di Buleleng, Permainan Tradisional Bali yang Unik

Bali selalu punya tradisi unik yang memikat para wisatawan, tak terkecuali di Buleleng. Ketika Anda berkunjung ke sana, ada permainan tradisonal yang unik dan bisa Anda coba. Masyarakat setempat menamai itu Tradisi Megoak-goakan di Buleleng.

Penasaran dengan tradisi tersebut? Pada kesempatan ini Anda akan mendapatkan penjelasan mengenai tradisi Megoak-goakan yang berlangsung di Buleleng. Simak sampai selesai.

Apa Itu Tradisi Magoak-goakan di Buleleng?

Tradisi Megoak-goakan di Buleleng

Saat berkunjung ke Bali, Anda akan melihat banyak keunikan wisata budaya di sana, di antaranya Magoak-goakan. Tradisi ini sudah cukup terkenal dan menjadi salah satu daya tarik wisatawan untuk datang ke Buleleng.

Lebih lanjut, banyak wisatawan yang juga ikut mencoba untuk memainkan permainan tradisional yang mereka namakan Megoak-goakan ini. Keikutsertaan mereka pun menjadi salah satu pengalaman unik yang tak terlupakan saat melawat ke Buleleng.

Sejatinya, Tradisi Megoak-goakan di Buleleng ini merupakan jenis permainan tradisional masyarakat setempat. Permainan ini berlangsung secara turun-temurun dan masih dilestarikan masyarakat Buleleng hingga kini.

Konon, berdasarkan cerita masyarakat setempat, keberadaan tradisi ini sudah ada sejak awal pendirian Kerajaan Buleleng. Apa lagi, ternyata pemrakarsa permainan tradisional ini tak lain adalah Raja Ki Barak Panji yang merupakan pendiri Kerajaan Buleleng itu sendiri.

Asal Mula Tradisi Megoak-goakan di Buleleng

Hadirnya tradisi Megoak-goakan ini tak terlepas dari peran Raja Ki Barak Panji. Kemunculan Magoak-goakan di Buleleng berawal ketika Raja Ki Barak Panji melihat keberadaan burung gagak yang tengah mengincar mangsa di depannya. Pada momen tersebut, Raja Ki Barak Panji mendapati burung gagak itu melakukan taktik menarik untuk bisa menangkap mangsanya.

Setelah menyaksikan pemandangan tersebut, sang raja pun mencoba mengaplikasikan taktik burung gagak itu kke dalam permainan. Permainan itu kemudian dia namai Megoak-goakan.

Megoak-goakan berasal dari kata “goak” yang dalam Bahasa Bali memiliki arti gagak. Belakangan, Megoak-goakan berlangsung pada setiap perayaan Hari Raya Nyepi, sehingga menjadi tradisi.

Di zaman dulu, bagi para prajurit Buleleng, Megoak-goakan menjadi penyemangat dalam setiap peperangan. Bahkan, dalam perang melawan Kerajaan Blambangan, Raja Ki Barak Panji menggunakan permainan tradisional Megoak-goakan untuk meningkatkan semangat para prajurit. Alhasil, mereka pun berhasil menang dalam pertempuran melawan prajurit Blambangan.

Seiring waktu, permainan tradisional ini terus berkembang dan menjadi tradisi, terutama bagi masyarakat Buleleng. Bahkan, Tradisi Megoak-goakan di Buleleng pun kini ramai peminatnya, baik dari warga lokal hingga turis mencanegara.

Pelaksanaan Tradisi Megoak-goakan

Dalam praktiknya, permainan Megoak-goakan ini dapat diikuti dua kelompok. Peserta akan terbagi menjadi dua kelompok dengan masing-masing kelompok terdiri dari 5 hingga 11 orang. Masing-masing kelompok nantinya akan berperan sebagai goak atau gagak dan mangsa.

Aturan mainnya, nanti pemimpin dari kelompok goak harus berusaha untuk menangkap peserta yang berada pada baris paling belakang kelompok mangsa. Begitu juga sebaliknya.

Biasanya, pelaksanaan Tradisi Megoak-goakan di Buleleng berlangsung di lapangan dengan ukuran yang cukup luas. Tujuannya, agar permainan berlangsung lebih seru dan menyenangkan karena peserta akan lebih bebas ‘saling memangsa’. Bahkan, dalam beberapa kesempatan, permainan Megoak-goakan ini juga bisa berlangsung di area berlumpur.

Karena keseruannya, maka tidak heran para wisatawan asing pun kerap tertarik untuk ikut bermain Megoak-goak. Namun, tentu saja ada tantangan tersendiri dari permainan ini, lebih dari sekadar saling mangsa.

Ketika peserta melangsungkan Tradisi Megoak-goakan di Buleleng, usaha untuk saling menangkap ekor lawan akan terbatas oleh waktu. Biasanya, mereka harus bisa saling memangsa dalam waktu paling lama 5 menit. Maka, jika para peserta tak bisa menangkap ekor kelompok lawan dalam batas waktu tersebut, maka goak akan kalah.

Ikut Tradisi Megoak-goakan

Bisakah Anda mengikuti Tradisi Megoak-goakan di Buleleng? Jawabannya, tentu bisa. Anda bisa datang ke Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali, untuk ikut serta dalam permainan tradisional ini.

Tidak ada kriteria khusus untuk peserta yang ikut dalam permainan Megoak-goakan ini. Tradisi ini terbuka untuk umum, baik dari warga lokal, wisatawan dalam negeri, maupun turis asing. Tentu, Anda juga bisa memanfaatkan kesempatan ini ketika berkunjung ke Bali, terutama Buleleng.

Biasanya, permainan Megoak-goak ini akan berlangsung sehari setelah perayaan Nyepi atau Ngembak Geni. Jika Anda benar-benar ingin ikut serta, sebaiknya Anda menyiapkan baju ganti, ya! Karena Anda akan bermain lumpur dan keringat saat mengikuti Tradisi Megoak-goakan di Buleleng ini.

Post a Comment