Kenali Tradisi Unik di Bali Makepung
Selain Ngaben Tikus dan Mekare-Kare, tradisi Makepung juga merupakan salah satu tradisi unik di Bali. Pada umumnya, tradisi ini diselenggarakan saat musim tanam padi. Apakah Anda penasaran dengan tradisi unik di Bali Makepung lebih dalam? Simak artikel ini!
Apa Itu Tradisi Unik di Bali Makepung?
Tradisi Makepung merupakan tradisi balapan kerbau yang unik sekaligus memacu adrenalin. Permainan satu ini sudah ada sejak lama dan berlangsung secara turun temurun. Hingga kini sudah menjadi bagian dari masyarakat petani di Kabupaten Jembrana, Bali.
Pada umumnya, tradisi Makepung diselenggarakan pada musim tanam padi. Tujuan utamanya sebagai sarana hiburan dan mengisi waktu luang. Selain itu, tradisi Makepung juga bisa dilakukan saat panen raya.
Makepung memiliki arti mendalam bagi para petani, khususnya di daerah Jembrana. Pasalnya, tradisi ini menjadi olahraga gaya petani Bali lawas. Makepung juga dapat memupuk semangat dan kegigihan dalam meraih cita-cita.
Sejarah Makepung
Secara bahasa, Makepung berarti berkejar-kejaran. Awal mula tradisi Makepung sebenarnya hanya keisengan. Saat itu, para buruh angkut padi sepakat menyelenggarakan lomba adu cepat di atas cikar-cikar atau pedati.
Pedati tersebut berupa sepasang kerbau yang memiliki muatan padi hasil panen. Jarak tempuh perlombaan yaitu sepanjang subak. Kegembiraan begitu terlihat dari sore sampai menjelang malam.
Makepung yang bermula dari keisengan ternyata memberikan dampak positif. Bukan hanya pada buruh tani saja, tapi juga pada kerbau pengangkut.
Lama-kelamaan kegiatan berkembang hingga menjadi tradisi Makepung seperti sekarang ini. Perkiraannya, adu cikar sudah mulai muncul pada tahun 1920-an.
Atraksi Makepung
Tradisi Makepung atau Lomba Pacu Kerbau Khas Jembrana ini sebenarnya adalah tradisi agraris. Artinya, tradisi ini menjadi bentuk penyembang keberadaan subak sebagai organisasi yang bertugas mengelola air.
Makepung saat ini biasanya menjadi puncak rangkaian pesta rakyat yang selalu diselenggarakan di Arean Pakepungan. Selain itu, atraksi satu ini juga menjadi puncak kegembiraan masyarakat agraris di wilayah tersebut.
Di masa lalu, lomba pacu kerbau hanya diikuti oleh masyarakat antar desa dan tetangga saja. Namun sekarang perkembangannya semakin luas. Bahkan ada perlombaan besar seperti Gubernur Cup dengan lebih dari 300 peserta. Tidak hanya itu saja, sekarang juga ada komunitas Pakepungan.
Aturan Atraksi Makepung
Tradisi unik di Bali Makepung merupakan sebuah perlombaan. Seperti perlombaan pada umumnya, tentu saja akan ada pemenang dalam perlombaan ini. Oleh sebab itu, ada aturan yang harus diikuti oleh semua peserta.
Aturan pertama mengenai jalannya. Biasanya, jalanan untuk atraksi Makepung merupakan jalanan tanah berpasir sepanjang 1 kilometer. Sementara lebarnya 4 meter dan berbentuk seperti huruf U.
Garis start dan finish pada tempat yang sama. Nanti akan ada tiga orang yang mengatur jalannya perlombaan. Salah satunya sebagai pengibar bendera, dan dua lainnya sebagai juri garis.
Sementara aturan mainnya, satu kerbau masing-masing peserta akan ditempatkan berurutan ke belakang. Setelah juri memberi aba-aba, kerbau mulai lari ke jalan sirkuit.
Jika semua pasangan kerbau sudah dilepas, maka pasangan kerbau pertama bisa mulai start ke finish. Pemenangnya yaitu pasangan kerbau yang mencapai garis finish pertama kali. Namun karena modelnya start-nya berbaris ke belakang, maka kerbau nomor dua juga bisa menjadi pemenang.
Keunikan Atraksi Makepung
Tradisi Makepung tidak hanya disukai oleh masyarakat Jembrana saja, tapi juga masyarakat luar daerah. Keunikan atraksinya memang menjadi daya tarik utama. Kerbau yang menjadi peserta Makepung akan didandani dengan sangat menarik.
Biasanya kerbau-kerbau tersebut akan menggunakan hiasan seperti mahkota atau gelung kepala yang dikenal dengan nama rumbing. Tanduknya dibuat warna-warni agar terlihat semakin menarik.
Sementara cikar atau keretanya menggunakan bendera berwarna hijau atau merah. Tidak lupa pemusik jegog atau gamelan khas Bali yang menambah meriah acara.
Sementara para joki yang juga menjadi peserta akan bertelanjang dada. Properti yang digunakan seperti kain tapis, celana panjang gelap selutut, tekes kepala bercorak batik, dan juga pedang khas Jembara di pinggang.
Demikianlah pembahasan mengenai tradisi unik di Bali Makepung. Jika penasaran, Anda bisa melihatnya langsung di Kabupaten Jembrana, Bali. Mengenal keunikan tradisi setiap daerah dapat menambah kecintaan pada bumi Indonesia. Semoga informasi mengenai tradisi Makepung di atas bermanfaat.
