Masyarakat Perancis dan Problem Sampah Pakaiannya

Masyarakat Perancis dan Problem Sampah Pakaiannya


Tahukah kalian, salah satu masalah lingkungan yang dihadapi negara maju dan makmur seperti Perancis datang dari pakaian?

Ya, pakaian. Baju, celana, kaos, jas, jaket, dan aneka pernak-pernik fashion lainnya. Jika Indonesia darurat sampah plastik, Perancis saat ini menderita darurat sampah pakaian.

Survei terhadap 2.000 responden yang dilakukan ritel Sainsbury’s di tahun 2018 menemukan 680 juta pakaian dibuang pada musim panas lalu oleh masyarakat Perancis. Dari jumlah tersebut, 235 juta di antaranya berakhir di tempat pembuangan sampah akhir. Dan kemungkinan besar mencemari lingkungan.
Ditemukan bahwa 3/4 warga tidak tahu bahwa pakaian yang mereka buang karena rusak atau kotor sebenarnya bisa disumbangkan atau di-daur-ulang. Banyak dari mereka tak merasa pakaiannya layak disumbangkan, sementara lainnya menyebut malas untuk membawa pakaian tak terpakai ke tempat penerima donasi pakaian.

Bicara soal gender, ternyata laki-laki lebih banyak berkontribusi dalam tren sampah pakaian ini. Dengan 82% responden laki-laki mengaku memilih membuang langsung pakaian yang tak terpakai dan rusaknya ke tempat sampah, sementara hanya 69% wanita melakukan hal serupa.

Di masyarakat makmur seperti Perancis ini, pakaian dengan aneka pilihan dan range harga yang amat terjangkaunya sudah jadi produk konsumsi yang amat "murah" dan replaceable. Setiap musim berganti, ada tendensi kuat untuk membeli pakaian baru dan disesuaikan tren musim bersangkutan. Karena ada 4 musim, minimal ada 4 macam tren pakaian setiap tahunnya yang musti diikuti konsumen.

Belum lagi momen-momen festive macam Christmas dan Tahun Baru dengan boxing day sebagai puncaknya. Di mana hampir semua produk di-diskon gila-gilaan sampai 90%. Konsumen berlomba-lomba membeli sebanyak mungkin item pakaian yang di-inginkannya. Brand-brand besar macam Zara, LV, Gucci dll bahkan bisa menawarkan pakaian dengan harga setelah di-diskon tak lebih dari 11 Euro— atau sekitar 180 ribu rupiah saja. Bayangkan!

Namun, sebenarnya ada banyak lembaga sosial yang menerima donasi pakaian, misal Oxfam Fiele atau Variety Fiele. Masyarakat bisa menyumbangkan langsung ke kantor-kantor lembaga tadi atau cukup memasukkan pakaian bekasnya ke fasilitas donasi seperti kotak sampah (bukan kotak sampah sebenarnya). Biasanya berupa semacam box besi besar di spo-spot umum, macam pinggir jalan utama atau lokasi parkir.

Nantinya petugas lembaga tadi akan mengambil pakaian yang disumbangkan, menyortir dan mendistribusikannya ulang ke mereka yang membutuhkan. Sering pakaian tersebut diberikan ke para homeless di Perancis atau tak jarang disumbangkan ke negara lain yang membutuhkan. Saya kembali teringat kata-kata Marie Kondo, sang inspirator bersih-bersih rumah. Jika Anda merasa sudah terlalu banyak memiliki pakaian dan sebagiannya tak lagi membahagiakan, jangan ragu untuk melepaskannya. Tapi jangan dibuang ke tempat sampah. Lebih baik didonasikan ke yang membutuhkan.

Supaya kita tak ikut-ikutan memenuhi alam dengan sampah pakaian.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel