Upacara Piodalan: Perayaan Keagamaan dan Kebudayaan Bagi Umat Hindu di Bali
Hindu menjadi salah satu agama yang ada di Indonesia dan memiliki pengikut yang tersebar di setiap jengkal wilayahnya. Agama Hindu menjadi salah satu keyakinan yang memiliki begitu banyak ritual, tradisi bahkan upacara perayaan yang begitu dijaga kesakralannya.
Jika kamu berkunjung ke Bali, kamu akan menemukan sebagian besar agama Hindu menempati wilayah Bali. Hal ini dibuktikan dengan begitu banyak pura, tradisi, ritual bahkan upacara keagamaan yang bisa kamu saksikan saat berliburan di Pulau Dewata ini. Ritual dan upacara perayaan ini begitu sangat memukau dan memiliki makna tersendiri disetiap pelaksanaannya. Salah satu ritual dan upacara keagamaan yang sudah di wariskan secara turun temurun dan dijaga sampai saat ini adalah Upacara Piodalan.
Upacara Piodalan merupakan perayaan keagamaan sekaligus kebudayaan yang bisa kamu saksikan saat berkunjung ke Bali. Upacara ini memiliki pesona tersendiri dengan keunikan dan kesakralannya.
Yuk simak lebih lanjut pesona keindahan dari perayaan keagamaan dan kebudayaan bagi umat Hindu di Bali ini!
Mengenal Lebih Dekat Makna dan Pentingnya Upacara Piodalan
Piodalan atau yang dikenal dengan Odalan ini berasal dari kata Wedal yang memiliki makna unik yaitu “keluar” atau “lahir”. Makna inilah yang menjadikan Piodalan sebagai perayaan hari lahirnya pura yang menjadi tempat suci umat Hindu.
Upacara Piodalan ini secara garis besar menjadi hari perayaan yang besar untuk mengingat kembali disucikan pertama kali sebuah Pura, dimana Tuhan pertama kali untuk mengunjungi pura tersebut. Bagi umat Hindu terutama bagi masyarakat Bali, upacara Piodalan sebagai rangkaian upacara Dewa Yadnya yang ditunjukan kepada Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa).
Upacara Piodalan ini sebagai bentuk ucapan terimakasih dan bersyukur atas keselamatan dan kesejahteraan serta meciptakan segala sesuatu yang ada di langit dan bumi mendapatkan kekuatan dan kesuburan yang mana nanti akan dinikmati oleh masyarakat sekitar yang telah dianugrahkan Hyang Widhi Wasa.
Pelaksanaan dan Ritual Upacara Piodalan
Bagi umat Hindu, Upacara Piodalan bukan hanya suatu kewajiban yang harus dilaksanakan, namun juga sebagai simbol dari masyarakat tersebut. Upacara Piodalan dilaksanakan dengan penuh rasa cinta dari hati sebagai bentuk kesetiaan kepada Hyang Widhi Wasa.
Upacara Piodalan dilaksanakan pada setiap enam bulan sekali berdasarkan pada perhitungan kalender Hindu yang berlangsung selama tiga hari. Dalam jadwal yang disesuaikan, Piodalan dilaksanakan pada bulan purnama atau bulan baru (Tilem). Sedangkan, menurut kalender Pawukon, dilaksanakan selama tujuh hari yang terdiri dari 30 minggu.
Masyarakat Bali biasanya melaksanakan Upacara Piodalan dibeberapa pura utama, yaitu Pura Desa,Pura Pasar Agung, Pura Puseh dan Pura Dalem. Nah, jika kamu ingin melihat ritual pelaksanaan dari Upacara Piodalan ini, kamu harus bisa menyesuaikan waktu liburan kamu dengan waktu pelaksanaan Piodalan.
Uniknya dalam tradisi Piodalan ini, kamu akan menemukan masyarakat yang saling gotong royong dalam keberhasilan dan kesakralan pelaksanaan Piodalan ini karena kebersamaan dan kebersihan menjadi poin penting disini. Masyarakat akan membersihkan puran dan menghiasi pura tersebut dengan kain warna warni, bunga-bunga yang bermekaran, bahkan sesajenan yang menciptakan sebuah kesucian dan kesakralan. Hal ini akan mengundang para Dewa turun dan menghadiri Upacara Piodalan.
Pada hari pelaksanaan Upacara Piodalan ini, semua masyarakat penuh suka cita untuk hadir dan datang ke pura menggunakan pakaian adat terbaik yang dimiliki dan menghiasi kepala mereka dengan buah bunga kamboja atau kembang sepatu.
Upacara Piodalan kamu akan menemukan kesan keindahan dan makna tersendiri, mulai dari gerbang depan pura yang dihiasi dengan begitu cantik sebagai tanda sambutan kepada umat Hindu. Gerbang tersebut dihiasi dengan Garang Bhoma yang berdiri disisi gerbang sebagai penghalang dan pelindung terhadap roh jahat yang akan masuk ke dalam pura. Selain itu, kamu juga akan menemukan sebuah payung khas Bali yang terus berkibar menandakan sebuah hari raya yang begitu meriah.
Mulainya Upacara Piodalan ini ditandai dengan dentuman Kulkul yang terbuat dari drum kayu yang berongga dan berirama sehingga menciptakan gema di udara sebagai tanda pemanggilan para dewa yang dipimpin oleh pemangku adat.
Pemangku adat akan memulai dengan prosesi pembersihan Niskala diseluruh bangunan suci dan dilanjutkan dengan upacara persembahyangan serta diakhiri dengan memercikan air suci atau tirta untuk pembersihan jiwa diri untuk kententraman hidup lahir dan batin. Setelah sebuah ritual penuh dengan sakralnya dilaksanakan, kamu bisa menyaksikan acara makan bersama untuk menjalin silahturahmi antar umat Hindu.
Sarana yang Digunakan dalam Upacara Piodalan
Sarana yang digunakan dalam pelaksanaan Upacara Piodalan selalu dipersiapkan oleh masyarakat dan memiliki makna dan tujuan tersendiri secara bergotong royong. Ada beberapa sarana yang akan kamu temukan dalam upacara Piodalan ini yaitu:
- Wantila yaitu bangunan yang akan digunakan oleh masyarakat saat bergotong royong dalam persiapan upacara Piodalan
- Beji yaitu taman suci yang akan digunakan sebagai tempat persucian bagi Hyang Widha Wasa
- Banten atau yang lebih dikenal dengan sesajenan sebagai bentuk pengembalian dan persemabahan kepada sang Hyang Widha Wasa sebagai ungkapan rasa syukur. Biasanya komponen sesajenan ini disesuaikan dengan lambang pemujaan.
- Padmasana yaitu kursi yang bentuknya seperti bunga teratai dan diletakkan ditengah balai pura sebagai singgasana bagi Hyang Widha Wasa.
- Payung khas Bali yang tidak lepas dari upacara Piodalan yang turut memberikan kesan perayaan yang meriah
- Tarian dan alat musik yang turut mengiringi pelaksanaan Upacara Piodalan disiapkan begitu sangat sempurna sehingga menghasilkan keberagaman spiritual dan kebudayaan yang begitu cantik dan penuh pesona.
