https://www.effectivegatecpm.com/abyzmvm3a7?key=34e909d2a4b0c29f9b47231e352a10aa Tradisi Unik Nikah Massal di Pengotan Bali - Payana Dewa
Notifikasi

Loading…

Tradisi Unik Nikah Massal di Pengotan Bali

Indonesia memiliki beranekaragam budaya lokal yang menjadi bagian dari karakteristik masyarakat. Salah satu budaya unik yang ada di Indonesia adalah nikah massal di Pengotan Bali. Bukan sekedar pernikahan biasa, pernikahan ini dipengaruhi oleh adat dan budaya yang berlaku dalam masyarakat setempat.

Sesuai dengan namanya, pernikahan ini dilakukan secara massal yang di mana peserta pernikahan massal ini kerap diikuti oleh puluhan orang penduduk asli Desa Pengotan, Bali. Bagi masyarakat setempat, tradisi ini sudah sangat biasa dan sudah ada sejak tiga abad yang lalu.

Sejarah Tradisi Nikah Massal di Pengotan

Tradisi Unik Nikah Massal di Pengotan Bali

Tradisi pernikahan massal di Pengotan dilakukan sebanyak dua kali dalam setahun, yang ini pada bulan keempat (sasih kapat) dan bulan kesepuluh (sasih kedasa. Jika berdasarkan kalender Masehi, pernikahan terjadi pada bulan September - Oktober dan Februari - Maret.

Hal yang harus diketahui dari tradisi ini adalah peserta atau mempelai harus berasal dari Desa Pengotan, Bali dan wajib hukumnya. Bagi siapapun yang ikut dalam prosesi pernikahan ini, maka mereka harus siap mengikuti segala tradisi pernikahan massal terlebih dahulu, barulah dilanjutkan dengan upacara pernikahan di tempat pihak laki-laki.

Menurut Tetua Desa Pengotan, tradisi nikah massal ini sangat sakral dan harus dilakukan jika dalam sebuah pernikahan terdapat istri atau suami dari penduduk Desa Pengotan. Jika tradisi tidak diikuti, maka pernikahan dianggap tidak sah secara adat setempat. Para mempelai akan dilarang melakukan persembahyangan saat ada upacar Pujawali di Desa Pemogan.

Tak hanya diikuti oleh pasangan penganti baru, tradisi ini juga bisa diikuti oleh beberapa kalangan, seperti:

  • Warga yang sudah pernah bercerai dari pernikahan sebelumnya
  • Berlaku juga bagi merek yang sudah berkeluarga (dengan catatan sudah mendapat izin dari suami atau istri pertama)
  • Penduduk yang mengalami hamil di luar nikah

Untuk penduduk yang mengalami hamil di luar nikah akan dikenakan sanksi yang disebut Adat Kesipat yang mengharuskan pelanggarnya untuk membayar uang denda tiap bulan. Dan penyetoran uang denda akan selesai apabila pihak yang hamil memutuskan untuk melakukan pernikahan massal yang akan digelar dua kali dalam setahun.

Proses Nikah Massal di Pengotan Bali

Nikah massal di Pengotan memiliki proses cukup panjang yang harus dilalui oleh pasangan pengantin. Berikut telah dirangkum prosesi pernikahan massal di Pengotan, Bali:

1. Proses Meminang

Langkah awal dari tradisi ini diawali dengan proses mekruna atau meminang. Proses meminang dilakukan tiga hari sebelum tradisi pernikahan berlangsung, biasanya pihak keluarga pria akan berkunjung ke rumah keluarga wanita yang akan dipinang.

Setelahnya akan berlangsung proses memberikan basih kaputan kepada jero peduluan dan prajuru adat. Tujuan pemberian basih kaputan ini adalah sebagai simbol pemberitahuan bahwa akan ada pasangan yang akan menikah.

2. Sangkep Manten

Prosesi dilanjutkan dengan diadakannya sangkep manten yang di mana akan membahas siapa saja yang akan ikut dalam tradisi nikah massal. Sangkep manten akan diumumkan pada saat tilem setelah melakukan kerja bakti di are Pura Bale Agung.

Setelah diumumkan, acar ini setidaknya mengharuskan adanya pemotongan satu ekor sapi dengan tujuan sebagai bentuk persembahan untuk Pura Agung Bali. Selain sapi, terdapat sesaji lain seperti ayam, nasi, dan buah-buahan yang akan ditata rapi dalam pura.

Setiap calon pengantin wajib mengeluarkan biaya sebesar Rp200 ribu rupiah sebagai bentuk biaya Pengotan. Masing-masing peserta juga akan membawa nasu putih matang sebanyak empat rantang.

3. Puncak Tradisi

Setelah semua siap, para mempelai akan berbari rapi untuk masuk ke jaba selatan Pura Penataran Agung secara berjejer. Semua pasangan wajib menggunakan pakaian khas pernikahan adat Bali. Pada saat di jaba pura, para mempelai wajib melakukan proses pengelukatan diri (pembersihan).

Setelahnya akan dilanjutkan dengan duduk di bale pengantin, pamit di bale Agung, dan menunaikan damar kurung dengan tuuan memohon doa resty agar pernikahan berjalan langgeng. Setelah pamit para mempelai wajib melakukan brata selama 3 hari, dengan catatan tidak boleh lewat dari jalan adat.

Unik dan menarik, bukan hanya sekedar tradisi. Nikah massal di pengotan, Bali ini diadakan untuk meringankan beban masyarakat saat menikah. Sebab berdasarkan survey, Desa Pengotan memiliki tingkat kemiskinan yang cukup tinggi, jadi tradisi nikah massal ini bertujuan untuk menghindari pengeluaran dana berlebih.

Post a Comment