Tradisi Megibung di Karangasem yang Penuh Kekeluargaan
Karangasem merupakan salah satu Kabupaten yang terletak di Pulau Bali, tepatnya ujung paling timur. Jaraknya dari kota Denpasar kurang lebih 70 kilometer. Sama seperti kebanyakan daerah Bali lainnya, Karangasem juga memiliki tradisi unik. Tradisi Megibung di Karangasem merupakan salah satu tradisi paling populer.
Bahkan banyak masyarakat luar daerah yang sangat menghargai tradisi Megibung ini. Pasalnya, tradisi Megibung mampu memupuk toleransi dan penuh dengan kekeluargaan. Apakah Anda penasaran lebih lengkapnya? Artikel ini membahasnya!
Apa Itu Tradisi Megibung di Karangasem?
Tradisi Megibung merupakan tradisi yang banyak dilakukan oleh masyarakat Karangasem, Bali. Istilah Megibung sendiri berasal dari kata “gibung” yang kemudian mendapatkan awalan me-. Gibung artinya yaitu kegiatan yang dilakukan oleh banyak orang.
Kegiatan tersebut yaitu saling berbagi antara satu orang dengan orang lain. Secara lengkap, Megibung yaitu kegiatan yang dilakukan banyak orang dengan duduk, makan bersama, berdiskusi, dan saling bertukar pikiran.
Ada nasi dan juga banyak lauk-pauk yang kemudian dihidangkan di nampak atau wadah beralaskan daun pisang. Semua masyarakat yang ikut Megibung akan duduk bersama dan menikmati makanan yang telah disajikan.
Bukan hanya rasa kenyang saja yang didapatkan tapi juga suka cita dan kebersamaan. Jadi, tidak heran jika tradisi Megibung sangat identik dengan kekeluargaan antara masyarakat Karangasem.
Awal Mula Tradisi Megibung
Masyarakat Karangasem percaya bahwa tradisi Megibung diperkenalkan oleh Raja Karangasem. Raja bernama I Gusti Agung Anglurah Ketut Karangasem tersebut memperkenalkan tradisi sekitar tahun 1614 Caka atau sekitar 1692 Masehi.
Raja I Gusti Agung Anglurah Ketut Karangasem sendiri merupakan Raja ke VII Kerajaan Karangasem. Ia berhasil membawa kejayaan bagi Karangasem hingga akhir kekuasaannya di abad ke-18 Masehi.
Salah satu bentuk kejayaannya yaitu mampu menaklukkan kerajaan-kerajaan di Sasak (Lombok). Saat para prajuritnya sedang makan, Raja Karangasem tersebut kemudian membuat aturan yang menjadi cikal bakal tradisi Megibung di Karangasem.
Sang Raja meminta para prajurit untuk makan bersama dalam posisi melingkar. Tidak hanya itu saja, Raja bahkan juga ikut makan bersama dalam lingkaran tersebut. Selain memupuk kebersamaan, tradisi Megibung di masa lalu juga digunakan untuk menghitung jumlah pasukan dan mengetahui korban peperangan.
Daya Tarik dan Keunikan Tradisi Megibung
Berikut ini beberapa daya tarik dan hal unik dari tradisi Megibung:
1. Istilah-Istilah Unik
Ada beberapa istilah unik yang muncul dalam tradisi Megibung. Salah satunya yaitu “sele”. Istilah sele artinya yaitu orang-orang yang bergabung dan duduk bersama menikmati makanan dalam satu kelompok.
Selain itu, ada juga istilah “gibungan” yang artinya nasi dengan alas daun pisang di atas nampan. Lalu, ada juga istilah “karangan” yang merupakan lauk-pauk dalam tradisi Megibung. Istilah-istilah unik tersebut mengacu pada tradisi Megibung yang ada di Kabupaten Karangasem.
2. Lauk-Pauk dalam Tradisi Megibung
Lauk-pauk untuk tradisi Megibung sebenarnya tidak ada aturan pasti. Masyarakat bisa menyediakan lauk-pauk sesuai kemampuannya. Namun biasanya, lauk-pauknya seperti sate, balah, marus, padamare, urab, dan lain sebagainya.
3. Tidak Ada Status Sosial atau Kasta
Keunikan dan daya tarik lain dari tradisi Megibung di Karangasem yaitu tidak berlakunya status sosial atau kasta. Semua orang yang mengikuti Megibung duduk dan membaur bersama-sama.
Tradisi ini bahkan sering dijumpai di acara adat dan keagamaan. Misalnya seperti Upacara Bhuta Yadnya, Upacara Manusa Yadnya, Upacara Pitra Yadnya, dan lain sebagainya. Bukan hanya masyarakat Hindu saja, komunitas Muslim di Karangasem juga melakukan tradisi ini karena nilainya yang baik.
Tata Cara Tradisi Megibung di Karangasem
Ada tata cara atau aturan pada tradisi Megibung yang masih sangat kental di Karangasem. Masyarakat akan menyiapkan makanan dengan alas daun pisang. Lalu, nasi putih diletakkan di wadah gibungan, sementara lauk-pauknya disajikan dengan beragam.
Secara tradisi, Megibung akan membuat kelompok berisi 5 sampai 8 orang. Semua orang duduk bersila dalam lingkaran. Ada pepara atau pemimpin kelompok yang menuangkan nasi dan lauk.
Ada beberapa etika makan yang harus diperhatikan saat Megibung. Misalnya seperti mencuci tangan, tidak boleh mengambil makanan di sebelah, tidak boleh menjatuhkan suapan, dan tidak boleh langsung meninggalkan tempat sebelum ada aba-aba.
Nah, itulah pembahasan singkat mengenai tradisi Megibung di Karangasem, Bali. Sangat menarik bukan? Setiap tradisi dan budaya yang ada di Indonesia memang menawarkan keunikannya tersendiri. Anda bisa mempelajari setiap kebaikan dari tradisi di Indonesia. Salah satunya yaitu Megibung yang penuh kekeluargaan. Semoga bermanfaat!
