Iri dan Dengki Merupakan Sosok Sengkuni


Sangkuni

Sangkuni (Sengkuni) dalam tokoh pewayangan yang wataknya mungkin di sekitar kita, bahkan dalam diri kita sendiri.

Sengkuni adalah potret manusia yang picik penuh intrik dimana ia selalu mencari celah untuk keuntungan diri sendiri dengan mengorbankan orang lain. Ia lihai menyamar menjadi pribadi yang santun, religius, dan ramah namun menyembunyikan watak aslinya yang munafik, penuh dengki dan berlumur ambisi. Sengkuni yang asli tentu dapat kita jumpai dalam serial pewayangan, namun anak didik dan duplikatnya berseliweran di sekitar kita hari ini.

Tokoh Sengkuni sering dikambinghitamkan menjadi biang keladi, provokator, penjahat, terlicik, terbengis, tokoh buruk dalam pewayangan maupun di kehidupan nyata.

Kebanyakan dari kita menunjuk pribadi liyan tanpa mengetahui seperti apa sejarah hidup Sengkuni yang amat tragis dan serba dilematis. Sengkuni menjadi role model yang pas menjadi kambing hitam atas segala keburukan dan kebobrokan yang terjadi di dunia, dengan begitu naifnya mereka yang menyalahkan orang lain menjadi Sengkuni dan mendaku diri menjadi Pandawa.

Hampir di setiap jengkal kerusakan adalah ulah perilaku kita sendiri dan dengan entengnya kita mencari pembenaran diri. Tidak hanya iblis yang menjadi biang keladi, Sengkuni sekalipun dijadikan objek menyalahkan perilaku manusia jika ada perilaku buruk yang dilakukan oleh manusia lainnya. Kita sering melupakan motif penyebab mengapa Sengkuni dianggap menjadi biang kerok Perang Baratayudha. Masihkah kita sibuk menyingkap lembar demi lembar sejarah kehidupan dan bagaimana perjalanan hidup Sengkuni di masa dahulu.

Sengkuni menjadi tokoh yang terdzolimi atas ketidakcakapan kekuasaan kerajaan Astina yang memenjarakan Raja Gandhara yang merupakan seorang ayah, Ibu dan 100 saudaranya dalam penjara kerajaan. Mereka dipenjara hanya diberi sebulir nasi sehari, tentu lama kelamaan mereka akan mati satu demi satu karena kelaparan.

Oleh karena itu di dalam penjara Raja Gandhara harus mengambil keputusan siapa diantara anaknya yang layak untuk bertahan dan meneruskan pertalian darah keluarga. Keputusan tersebut diambil dengan ujian memasukkan benang ke dalam tulang dan yang lolos adalah Sengkuni. Oleh karena itu, Bapak dan ibu beserta semua saudaranya meyediakan diri untuk dikorbankan dimakan oleh Sengkuni berharap ia dapat meneruskan tampuk kepemimpinan dan kehidupan generasi kerajaan Gandhara.

Sengkuni dalam kisah ini bisa dikategorikan sebagai representasi salah satu aspirator dari sebuah prinsip dalam membangun keluarga yang memiliki daya juang yang tangguh untuk menomorsatukan martabat, kesejahteraan, dan keseimbangan sebuah keluarga. Begitu menderita dan tangguh lika-liku kehidupan yang dilakoni oleh Sengkuni.

Begitu tragis kepedihan yang harus ditanggung oleh Sengkuni, sebuah kepedihan yang tidak seorangpun sanggup untuk merasakannya dalam posisi tersebut. Maka tak heran mengapa Sengkuni memiliki alasan yang kuat untuk menjadi provokator Perang Baratayudha, sampai Pandawa dan Kurawa saling bunuh-membunuh.

Kisah heroik Mahabarata terfokus pada konflik antara Pandawa melawan Kurawa, mereka dua kubu yang saliang bersaudara. Cerita lampau ini seolah-olah sudah mengiyakan tokoh Pandawa sebagai kutub protagonis dan Kurawa kutub antagonis, padahal lebih dari itu. Peran Sengkuni dalam memantik perang tersebut begitu krusial, ia selalu dituduhkan berada pada kubu lawan yang penuh dengan kelicikan.

Perang Barathayuda mirip dengan polarisasi masyarakat Indonesia kini yang sewaktu-waktu bisa memantik konflik berdarah karena keterbelahan sikap sendiri. Setiap pendukung memosisikan diri sebagai mana baiknya Pandawa dan tentu menghindari klaim di belakang barisan Sengkuni. Setiap pendukung berambisi dan menghendaki diri menjadi sosok Pandawa, yang akan memenangi dalam perang Baratayuda nanti. Kedua pendukung sedang dipermainkan oleh siasat politik Sengkuni tanpa mereka sadari sebelumnya.

Jika masyarakat paham apa dan siapakah Sengkuni, serta kenapa Sengkuni menjadi begitu provokatif ingin melahirkan konflik berdarah terjadi di masyarakat. Dimana letak dalam diri kita sendiri yang tidak menjadi Sengkuni? Kita gagal paham mengidentifikasinya sejak awal. Merasa jadi Pandawa dengan gampangnya dan enggan menunjuk diri sendiri sebagai Kurawa. Walaupun perilaku kita juga tidak kalah buruknya dengan Kurawa, sementara kedengkian dan iri Sengkuni adalah sajian kehidupan kita sehari-hari dan menyesaki isi dada kita sendiri. Sengkunikah diri kita hari ini?

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel