Kuningan dan “Dewa Berung”

Kuningan dan “Dewa Berung”

Kuningan sejatinya adalah hari tumpek (Tumpek Kuningan) yang jatuh pada saniscara kliwon wara kuningan. Kuningan secara filosofi terlepas dari rangkaian Galungan. Tapi karena harinya berdekatan sehingga tampak sebagai sebuah rangkaian dan dirayakan sebagai Galungan - Kuningan. 

Tumpek Kuningan sebagai hari pemujaan khusus kehadapan Dewa (Betara) dan Leluhur (Pitara). Sebagaimana juga kekhususan tumpek yang lain seperti tumpek kandang untuk binatang, tumpek wariga untuk tumbuhan, tumpek landep untuk senjata, tumpek wayang untuk kekuatan supranatural / pasupati / taksu, tumpek krulut untuk suara. Sebagai tonggak pemujaan khusus, Tumpek Kuningan bahkan lebih “rumit” dan “rimit” dibandingkan dengan Galungan. Seperti sarana tebog, selangi, ceniga dengan daun kayu sedikitnya lima macam, tamiang, ter, endongan, sampian gantung dengan bentuk khusus, tumpeng kuning, nasi kuning, sodan, segehan, dll. 


Dan semua sarana tersebut sebelum dihaturkan mesti dikuningkan dan disucikan dengan sarana gerusan / tumbukan daun intaran dan kunyit yang diisi air. Dalam cakepan Sunar Igama, pada hari Saniscara Kliwon wara Kuningan Ida Hyang Siwa Mahadewa diikuti oleh para Dewa dan Pitara (leluhur) turun dari “kayangan” menuju “mercapada” untuk “mesuci” dan “amukti sarining banten”. Oleh karena itu, sang gama tirtha di mercapada menyambut kehadiran “Betara” dan “Pitara” dengan persembahan pesucian, canang wangi, disertai “selangi”, “tebog”, haturan sesaji, dan segehan, sebagai simbol tapa dan ketulusan memuja Hyang Maha Suci untuk memohon amerta, kemakmuran, kepradnyanan / kebijaksanaan. Pada hari Kuningan bangunan agar “mesawen” dipasangi “tamiang” (tameng / pelindung) sebagai tanda kemeriahan dan keindahan menyambut kehadiran Betara dan Pitara di mercapada.


Kuningan  selalu menautkan Tamiang, yang mana sebagai simbol memohon perlindungan dan keselamaran kehadapan Ida Bethara dan Pitara. 
Sang Gama Tirtha juga melaksanakan “prayascita” memohon penyucian diri kehadapan Betara dan Pitara dengan sesayut prayascita disertai hening “adnyana” / bhatin. Ditetapkan bahwa pada hari Kuningan, Ida Betara dan Pitara turun ke dunia pada pagi hari. Setelah memberkati anugrah semua haturan, maka pada tengah hari Ida Betara dan Pitara kembali ke kayangan. 

Oleh karena itu pemujaan Kuningan dilakukan pada pagi hari. Tidak boleh “kelangkaran surya” (dilangkahi matahari / lewat tengah hari). Apabila pemujaan Kuningan lewat tengah hari, maka yang akan dihaturkan pemujaan adalah “Dewa Berung” yakni sosok dewa yang kotor, borok, dan bau. Mitologi Dewa Berung ini dinarasikan oleh para leluhur agar pemujaan Kuningan sesuai dengan ketentuan, agar tidak sia-sia. Demikian leluhur mewariskan. 

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kuningan dan “Dewa Berung” "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel