Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Renungan kemanusiaan: Dari Bali untuk dunia

Renungan kemanusiaan: Dari Bali untuk dunia

Untuk ke sekian kalinya, petaka kemanusiaan terjadi lagi dan lagi. Persisnya kamis 14 maret 2019 lalu sebuah mesjid di Selandia Baru ditembak oleh orang-orang yang berhati kurang menyentuh. Dan nyawa manusia lagi-lagi melayang diikuti oleh perasaan yang sangat tersentuh.

Sebagaimana kejadian lain, ia bisa dilihat dari berbagai perspektif. Bagi sebagian orang, kekerasan barbar seperti ini mudah sekali membakar dendam dan amarah. Sesuatu yang sangat manusiawi. Tapi di Bali pernah muncul Cahaya sangat indah. Setelah Bali dilukai bom teroris di tahun 2002, tidak ada tanda-tanda orang Bali melakukan kekerasan balik.

Ujungnya sudah dicatat sejarah, beberapa tahun setelah kejadian bom Bali, berkali-kali oleh media-media terkemuka dunia disebutkan: "Bali adalah pulau terindah di dunia". Pelajaran yang tersisa dari sini, menyaksikan manusia dibunuh di Mesjid di Selandia Baru tentu saja sangat menyedihkan.

Dari sudut pandang mana pun tidak bisa dibenarkan. Namun kebenaran bukan kawannya kekerasan. Kebenaran adalah sahabat karibnya keindahan. Maksudnya, di saat-saat seperti inilah para sahabat diundang untuk menunjukkan wajah agama yang indah. Tidak dengan cara marah-marah. Melainkan melalui sikap yang indah.


Setidaknya tidak memperpanjang daftar panjang kekerasan yang telah panjang. Shanti, shanti, shanti (damai, damai, damai).

Post a Comment for "Renungan kemanusiaan: Dari Bali untuk dunia "