Pembelajaran Demo Antirasisme Dari Negeri Paman Sam

Pembelajaran Demo Antirasisme Dari Negeri Paman Sam
Demo antirasisme besar-besaran di Amerika Serikat belum juga selesai. Makin hari makin meningkat intensitas dan meluas skalanya. Makin ke sini makin banyak bentrokan, kekerasan, pembakaran, penjarahan dan tentunya penangkapan.

Di hari keempat ini, tak kurang 1600-an warga yang berdemo ditangkap aparat keamanan. Tak sedikit pula yang mengalami luka ringan dan berat. Ratusan toko dan fasilitas umum rusak, terbakar atau dijarah massa. Beredar luas video bentrokan antara aparat bersenjata dengan massa yang sebagian tak membawa apa-apa.

Ketika sebagian besar publik yang tak lagi bisa menahan kemarahan paska insiden tewasnya George Floyd ini turun ke jalan dan menyuarakan tuntutan keadilan, alih-alih mendengarkan dan menenangkan, pemimpin negeri Paman Sam, Donald Trump justru seakan menabuh genderang perang. Dia menyalahkan aksi para demonstran dan menolak mengakui ada yang salah secara sistemik di jajaran kepolisian.

Pendemo yang meradang pun semakin tak tahan. Yang awalnya demo hanya di satu kota di satu negara bagian, sekarang merambah ke kota-kota besar, kecil dan sedang. Tak hanya di Amerika Serikat, publik di negara lain pun turun ke jalan, atas nama solidaritas kemanusiaan.

Simak demo di London, Berlin, Copenhagen dan Sydney mengecam perlakuan aparat yang menyebabkan kematian George Floyd. Yang menarik juga, ada juga demo serupa namun dengan tuntutan terhadap aparat di negeri sendiri, macam demo di Rio de Janeiro, Lebanon, Tel Aviv dan Jerusalem.

Apa yang bisa kita petik dari gelombang demo antirasisme di Amerika Serikat dan berbagai belahan dunia ini?

Pertama bahwa rasisme itu ada, nyata dan mesti dilawan. Bahwa di tengah dunia yang semakin mengglobal, sentimen ras, etnis, sukubangsa, warna kulit dan segala turunannya berpotensi memecahbelah ketika tidak dimaknai dan ditangani secara baik dan positif.

Kedua, di banyak negara, politik dan politisi alih-alih menjadi peredam potensi konflik antar-ras, justru mengeksploitasinya untuk kepentingan kekuasaan semata. Menjual sentimen rasial demi meraup dukungan massa pemilih saat pemilu, namun mengoyak-oyak jalinan benang sosial kehidupan publik jangka panjang.

Ketiga, bahwa aparat khususnya polisi, mestinya menjadi lembaga dan sosok yang menaungi kepentingan bersama dan tidak jatuh ke dalam praktek penanganan yang berpihak.

Keempat, aktifisme dan kepedulian sosial adalah prasyarat mutlak bagi publik untuk mewujudkan civil society alias masyarakat madani. Tanpa aktifisme dan kepedulian sosial sebagai pressure force, politisi, negara dan aparatnya rawan terjerembab ke dalam praktek yang menyuburkan ketidakadilan macam yang terjadi di Amerika Serikat.

Kelima, kekerasan bukanlah solusi, pembakaran dan penjarahan bukan pula wujud perjuangan yang mesti diselebrasi. Namun di saat massa marah tidak didengarkan dan diakomodir suaranya, kekerasan berujung aksi pembakaran dan penjarahan adalah keniscayaan. Karenanya, dibutuhkan kemauan semua pihak untuk saling mendengarkan.

Kita bisa belajar banyak dari kasus di Amerika Serikat ini. Kita pernah mengalami masa-masa kelam penuh kekerasan serupa di bawah rezim Orde Baru. Kita pernah pula mengalami pedihnya kerusuhan rasial berujung pembakaran, penjarahan bahkan pembunuhan dan perkosaan masal.

Kita tentu tak mau hal itu semua terulang kembali. Kita bukan keledai yang mau kembali jatuh terperosok ke lubang yang sama dua kali. Namun untuk bisa menghindari itu semua, kita butuh kesadaran bersama, publik maupun aparat negara. Kita butuh mengedukasi massa, khususnya generasi muda akan kesalahan-kesalahan masa lalu dan bagaimana menghindarinya.

George Floyd mungkin tewas di ujung utara benua Amerika. Namun darinya kita bisa belajar dan berefleksi bahwa di setiap negara, di setiap bangsa dan di setiap masyarakat, ada orang-orang yang rawan jadi korban kekerasan hanya karena ras, etnis, suku atau warna kulitnya. Dan adalah tugas serta panggilan kita semua sebagai manusia yang beradab untuk menolak kekerasan macam ini mewujud nyata.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel