Di Tengah Pandemi Ini, Seorang Ibu Dituntut untuk Tetap Waras

Di Tengah Pandemi Ini, Seorang Ibu Dituntut untuk Tetap Waras
foto dari @jayens_photograhi

Mengubah rutinitas di tengah panedemi virus corona ini memang tidak mudah. Mengatasi rasa cemas dan was-was pun membuat kita tak nyaman. Kita semua pun berharap semua keadaan akan segera membaik. Sahabat Prempuan Bali berbagai cerita dan harapannya di situasi ini. Langsung ikuti tulisannya di sini, ya.

Ujian itu bernama Corona. Cantik namanya, tapi tidak seindah yang dibayangkan. Betapa kehadiran Corona, sebuah virus yang berasal dari golongan SAR-2 atau yang lebih dikenal dengan Covid-19 dapat membuat perubahan besar dari hampir seluruh negara di dunia termasuk, di Indonesia.

Semenjak diumumkan kasus pertama pasien positif di Indonesia yang terkena infeksi virus pada tanggal 2 Maret lalu oleh Presiden RI, sejak itulah dunia kita bagai mimpi buruk yang ingin rasanya cepat beranjak bangun menyambut mentari pagi. 

Dari penetapan kebijakan jaga jarak, bekerja, belajar dan beribadah di rumah, hingga tagar di rumah saja dalam konteks media daring, berita di media yang tidak hentinya memberitakan mengenai Corona dan yang terbaru adalah pembatasan sosial berskala besar dan efek yang ditimbulkan seperti pengurangan karyawan, dilarang mudik dan sebagainya yang membuat kehidupan kita jelas terasa sangat berbeda.

Bagi saya, seorang ibu dan juga pekerja, kebijakan ini seperti dua sisi mata uang. Satu sisi ebijakan anak-anak bersekolah di rumah, memberikan pengalaman yang berbeda seperti saya harus membersamai mereka 24 jam, mengambil alih peran guru di sekolah dan ikut belajar dalam konteks digital. Namun di sisi lain, proses ini sangat membutuhkan ekstra tenaga karena pada faktanya sangat sulit menjadi seorang guru atau pendidik selama 24 jam terutama bila anak yang hadir lebih dari satu.

Mengatur Waktu dan Prioritas

Di tengah pandemi ini, seorang ibu dituntut untuk tetap waras. Dalam urusan mengatur sektor finansial keluarga agar tetap bisa bertahan, dalam hal mengajarkan anak sekolah di rumah ditambah dengan tugas dan ujian daring serta profesi Ibu sendiri. 

Meski ada imbauan bekerja dari rumah, tetapi saya tidak. Profesi saya sebagai seorang dokter gigi di sebuah Rumah Sakit Ibu dan Anak serta klinik pribadi, mengharuskan saya untuk tetap bekerja membantu sesama. Bukan perkara mudah, karena rutinitas dari pagi seperti mengajarkan anak di rumah, membantu tugasnya dan melaporkan kepada guru, mempersiapkan makanan juga menata emosi anak-anak agar tidak bosan selalu berada di rumah, membersihkan rumah dan tetap berperan dalam lingkungan seperti bank sampah, melengkapi kebutuhan dapur dan suami yang harus bekerja di rumah, hingga saya siap untuk bergelut dengan pekerjaan tindakan gigi yang masuk kategori risiko tinggi
Rutinitas seperti ini harus saya jalani entah sampai kapan. Pertanyaan yang mungkin sama ada di benak ratusan juta warga negara Indonesia. 

Namun hanya satu yang saya yakin, semua rutinitas yang saya lakukan saat ini paling tidak bisa membantu hadirnya SENYUM di wajah anak-anak saya, suami saya, pasien saya, dan orang di sekeliling saya bahwa meski menjaga jarak itu nyata adanya, namun cinta akan selalu terasa karena ia hadir melalui rasa bahagia dan senyuman. Sudah tersenyumkah kamu hari ini?

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel