Tedung Agung, Konsep Ogoh-ogoh Banjar Tainsiat

Tedung Agung, Konsep Ogoh-ogoh Banjar Tainsiat

Dikutip dari Banjar Tainsiat: dikutip dari Tedung Agung yang merupakan konsep ogoh-ogoh Banjar Taisiat saka  1942, yaitu penyeimbang dunia.

Jika dikaitkan dengan situasi saat ini, sejalan dengan konsep kosmologi Tri Hita Karana yang merupakan filsafah yang dapat memayungi dan melindungi keaneka ragaman budaya dan lingkungan di tengah derasnya hantaman globalisasi dan homogenisasi tanpa menyampaikan nilai-nilai ketuhanan.

Selain itu, Jika Tedung dilihat dari nilai dari konsep kepemimpinan, tedung itu sendiri merupakan lambang atau sosok yang mengayomi masyarakatnya dan jari-jari yang mengembang disetiap tedung merupakan lambang semangat gotong royong yang terfokus pada satu poros untuk menuju satu titik tujuan. Bentuk bulat pada tedung merupakan filsafah dari keseimbangan di dunia ini yang meliputi hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan sekitar, dan hubungan manusia dengan Tuhan, yang selalu terkait satu dengan yang lain. Sehingga bisa selalu membentengi diri dengan sifat-sifat hidup manusia yang modern seperti, mengedepankan individualisme dan materialisme.

Tedung Agung, Konsep Ogoh-ogoh Banjar Tainsiat

Begitu juga sebaliknya, sifat Kemurkaan Tedung Agung Akan Muncul apabila, manusia dalam menjalankan kehidupannya tidak berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan yang tidak bakti dan eling kehadapan Ida Sang Hyang Widhi.

Selalu konflik dengan sesama, secara tidak langsung akan menyebabkan bencana di dunia.

STT Tainsiat Saka 1942

Video Ogoh-ogoh Tedung Agung Bisa Lihat Di Bawah

Awal Pembuatan Oleh Kedux Garage


Dumogi Santi, rahayu

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel