Antara Kali Ciliwung dan Sungai Guadalquivir


Jangan salahkan sungai yang meluap, namun salahkan kita yang tak menjaga lancar arusnya. Jangan salahkan hujan deras mengguyur, namun salahkan kita yang terus membabati pepohonan dan merubah area resapan menjadi gedung, villa dan perumahan. Jangan salahkan air yang mencari jalan ke muara, namun salahkan kita yang terus mempersempit jalurnya dengan sampah.

Hampir setiap peradaban besar dibangun di bantaran sungai atau tepian laut. Karena sungai dan laut dengan air dan ragam sumber dayanya adalah modal kehidupan. Namun, sungai dan air mensyaratkan pengelolaan nan cerdik dari manusia penghuni bantarannya dan bukan keacuhan dan doa keselamatan semata.

Jika Jakarta punya kali Ciliwung, Andalusia punya sungai Guadalquivir. Kota-kota utama berada di sepanjang bantarannya; Cordoba, Seville. Ia adalah sungai terpanjang kedua di Spanyol, berkelok sejauh 657 kilometer, dari hulu di Cañada de Las Fuentes dan bermuara di Samudera Atlantik. Sungai Guadalquivir, yang namanya berasal dari Bahasa Arab al-wādī l-kabīr yang berarti Sungai Nan Besar, adalah alasan perkembangan berbagai peradaban di sisi selatan Semenanjung Iberia tersebut. Bangsa Phoenicia, Romawi, Visigoth, Arab, dan sekarang Spanyol bergantian memanfaatkannya untuk pengairan, pelayaran, perdagangan sekaligus pertahanan militer.

Mereka yang ingin menguasai Andalusia mesti mengawali dengan menguasai sungai Guadalquivir. Dan siapa mengontrol alurnya, bakal menguasai kekayaan alam dan sumber daya di sepanjang bantarannya.

Bangsa Romawi membangun jembatan batu di Cordoba untuk menyambungkan kota terbesarnya dengan daerah lain. Bangsa Arab membangun benteng pertahanan disertai menara emas Torre del Oro di sisinya untuk mengontrol pertahanan sekaligus menghalau musuh. Bangsa Spanyol membangun armada laut dan dermaga kapal dagang transatlantik di bantarannya. Semua mendayagunakan teknologi termutakhir di jamannya untuk menghadapi tantangan hidup.

Beberapa kali sungai Guadalquivir meluap, membanjiri kota-kota dan kawasan sekitarnya. Banjir yang tak hanya merusak namun juga mengorbankan tak sedikit jiwa penghuninya. Semua terjadi ketika penguasa lalai memfokuskan diri dan upayanya mengelola daya latennya.

Kita bisa belajar banyak dari kisah-kisah peradaban besar yang jatuh bangun di sepanjang bantaran sungai Guadalquivir. Menyerap hikmah dari upaya manusia-manusia di belakangnya, idealisme, perjuangan, inovasi, dan semangat pantang menyerah mereka yang mencoba mengelola sungai besar demi kemaslahatan masyarakatnya.

Kita bisa belajar dari itu semua dan menerapkannya di sungai-sungai kita. Di Ciliwung, Citarum, Bengawan Solo, Brantas, Musi, Kapuas dan lain sebagainya. Kita bisa belajar menghargai keberadaannya dengan segala potensi yang ada dan menjaganya sehingga tak berujung bencana macam yang terus berulang menghantui ibukota.

0 Response to "Antara Kali Ciliwung dan Sungai Guadalquivir "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel