4 Kasta di Bali Yang Mungkin Semeton Belum Ketahui Sejarahnya

4 Kasta di Bali Yang Mungkin Semeton  Belum Ketahui Sejarahnya

Mungkin sudah banyak ada tulisan ini di Google, tetapi ditulisan ini saya jamin kebenarannya. Nah, seperti yang semeton ketahui bersama, bahwa penduduk di Bali banyak yang menganut agama Hindu. Sampai saat ini sistem Kasta masih di jumpai di Bali dan mungkin nggak akan hilang dimakan zaman. Karena, Kasta ini di wariskan sampai sekaranh oleh leluhur orang Hindu di Bali dan Kasta di buat berdasarkan profesi masyarakat. Dari dulu sampai saat ini masih ada 4 Kasta di Bali Yang Mungkin Semeton Belum Ketahui Sejarahnya yaitu:

1. Kasta Brahmana

Kasta Brahmana merupakan Kasta tertinggi yang memiliki profesi yang bergerak di bidang religi (ke-agamaan). Di mana sampai sekarang mereka di beri nama Ida Bagus untuk seorang laki-laki dan Ida Ayu untuk seorang perempuan. Dan selalu melakukan menjalankan Ke-Pendetaan-nya. Brahmana yang mempunyai Sisya, dimana Sisya-Sisya inilah yang akan memperhatikan kesejahteraan dari Pendeta.

2. Kasta Ksatria

Kasta Ksatria mempunyai posisi terpenting dalam pemerintahan dan politik tradisional di Bali. Mereka berprofesi sebagai abdi negara/ kerajaan pada jaman dahulu dan dimana bahwa Kasta ini adalah keturunan dari Raja-Raja Bali pada jaman Kerajaan dan dari segi nama keturunan Kasta Ksatria yang menggunakan nama/gelar yaitu "Anak Agung, Dewa Agung, Tjokorda, dan juga ada yang menggunakan nama Dewa. Dan dimana tempat tinggal mereka sering disebut dengan Puri.

3. Kasta Waisya

Mereka berprofesi sebagai Prajurit. Mereka di beri gelar Gusti Bagus untuk seorang laki-laki dan Gusti Ayu untuk seorang prempuan. Kasta Waisya ini merupakan keturunan dari abdi-abdi kepercayaan Raja. Dan tempat tinggalnya sering di namakan Jero.

4. Kasta Sudra

Dimana Kasta Sudra ini adalah Kasta terakhir di Bali dan mereka tidak mempunyai gelar tetapi diberi nama menurut urutan kelahiran yaitu Wayan (anak pertama), Made (anak kedua), Nyoman (anak ketiga), dan Ketut (anak ke-empat). Dan jika mereka memiliki anak lebih dari empat maka mereka mengulangnya dari nama Wayan. Yang dimana Kasta ini jika berbicara kepada Kasta yang lebih tinggi yang di sebut Tri Wangsa mereka harus menggunakan Sor Singgih. Tempat tinggal mereka disebut dengan umah.

Dalam sejarahnya, pada ajaran agama Hindu hanya membedakan kelas-kelas sosial berdasarkan pekerjaan dan bukan garis keturunan yang dikenal dengan Catur Warna. Tetapi, saat Belanda datang ke Bali, Catur Warna tersebut dirubah menjadi Catur Kasta seperti sekarang ini. Motif Belanda saat itu adalah semata-mata untuk memecah belah masyarakat Bali.

Dampak dari ulah Belanda tersebut begitu besar, masyarakat asli Bali semakin mengkotak-kotakkan diri dalam perbedaan. Masyarakat yang berada dalam kelas Bangsawan semakin terlena dengan prestise yang menyebutkan bahwa mereka datang dari status sosial kelas atas. Status sosial disini tidaklah dinilai dari materi, pendidikan, pekerjaan, melainkan dari Kasta. Harga diri dan Kasta memiliki arti penting bagi masyarakat Bali, kehilangan Kasta sama saja seperti kehilangan "mahkota" hidupnya. Sangat menyimpang, jika kita berpikir ternyata hanya satu aspek saja yang begitu dijunjung tinggi.

Satu fenomena yang menurut saya agak miris adalah mengenai sebuah hubungan percintaan yang terhalang “benteng” perbedaan. Hubungan percintaan yang awalnya adalah hal yang sederhana dapat berubah menjadi kompleks dan rumit. Adat, tradisi, kasta, turut mengambil andil dalam masalah ini. Sebab  didalam konteks masyarakat Bali, cinta bukanlah menjadi satu-satunya unsur yang penting. Banyak hal yang harus diperhitungkan dan dikorbankan.

Berbagai fakta ditemukan, seseorang yang datang dari Kasta Brahmana cenderung diarahkan untuk mencari pasangan yang datangnya dari kelas yang sama, begitu juga dengan Kasta lainnya. Hal ini dikarenakan agar keturunan selanjutnya tetap memiliki darah murni Bangsawan, pura keluarga (merajan) tetap dipelihara dengan orang-orang yang sederajat, dan agar nama keturunan selanjutnya tetap memiliki nama murni seorang Bangsawan. Padahal kalau kita berpikir lebih rasional, ada dampak yang penting namun lupa untuk dipertimbangkan. Dan yang berdekatan cenderung beresiko pada lahirnya keturunan yang kurang sehat dan tidak adanya variasi keturunan, karena pada dasarnya mereka hanya mencari pasangan seputar kelas-kelasnya saja.

Tak bisa dipungkiri banyak pasangan yang mencoba merubah dogma tersebut, namun berhadapan dengan tetua-tetua penjaga adat tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Sebab jika menghancurkan “benteng”tersebut, perbedaan sama saja seperti ingin merobohkan tembok Cina, dan itu artinya juga merubah sejarah dunia. Jika semakin Anda ingin menghancurkannya, semakin sadar bahwa usaha Anda hanya sia-sia. Sudah pasti banyak korban-korban yang datang dari adanya “benteng” perbedaan tersebut. Dan ketika sudah cocok dalam segala hal, sudah menjalin hubungan yang begitu lama bahkan bertahun-tahun, mereka harus rela bernegosiasi dengan ego. Mengubur dalam-dalam mimpi karena perbedaan yang mustahil untuk disamakan.


Inilah realitas sosial yang mayoritas terjadi di masyarakat. Karena pendidikan yang mengenai Bhineka Tunggal Ika, multikulturalisme, tidak di-implementasikan secara sempurna. Perdebatan yang berorientasi pada adat dan kehidupan moderen seolah menjadi sebuah hal yang sulit menemui titik terang penyelesaian. Sebenarnya apa yang menjadi alasan masyarakat tidak bijak menghadapi perbedaan? Akankah selalu “benteng” perbedaan menjadi sebuah jurang? Mari kita bersama-sama mengamati sekitar dan kita lihat perkembangannya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "4 Kasta di Bali Yang Mungkin Semeton Belum Ketahui Sejarahnya"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel