Makna Filosofis Mekala-kalaan

Makna Filosofis Mekala-kalaan

Mekala-kalaan adalah salah satu upacara yang amat penting dalam proses pernikahan adat, khususnya bagi masyarakat Bali. Mekala-kalaan sendiri sebenarnya memiliki kata dasar ‘Kala’ yang diartikan sebagai sebuah kekuatan buruk, yang penuh dengan energi negatif, diadakannya upacara ini tujuannya adalah menetralisir sifat-sifat ‘kala’ yang ada dalam tubuh kedua mempelai, sehingga sedapat mungkin bisa berubah menjadi bijaksana dan penuh kebajikan, selain itu upacara ini juga bermaksud sebagai pengesahan perkawinan antara kedua mempelai.

“Mekala-kalaan biasanya dipuput oleh seorang pinandita serta dilaksanakan di halaman rumah (tengah natah) karena merupakan titik sentral kekuatan “Kala Bhucari” sebagai penguasa wilayah madyaning mandala perumahan. Dalam pelaksanaan Mekala-kalaan, ada beberapa prosesi yang amat penting dilakukan, merupakan momen yang sakral dan penuh akan nilai filosofi, yakni ;

  1. Medagang-dagangan. Dagang-dagangan melambangkan kesepakatan dari suami istri untuk membangun rumah tangga dan siap menanggung segala resiko yang timbul akibat perkawinan tersebut seperti kesepakatan antar penjual dan pembeli dalam transaksi dagang. 
  2. Penegtegan. Yaitu upacara yang disimbolkan dengan berdirinya sebuah tiang, yang berisi sebilah keris, yang diartikan sebagai berikut, tiang merupakan pilar rumah tangga, yang menopang berdirinya sebuah rumah tangga, dengan sebilah keris yang melambangkan purusha yaitu (garis utama asal usul keturunan dari pihak laki-laki).
  3. Tegen-tegenan dan Suwu-suwunan. Makna tegen-tegenan merupakan simbol dari pengambil alihan tanggung jawab mempelai pria secara sekala dan niskala, media yang diguakan antara lain; Batang tebu, melambangkan kehidupan bisa berjalan harmonis dan penuh rasa ‘manis’ sehingga dalam situasi apapun sang suami setia mengayomi. 
  4. Cangkul sebagai simbol Ardha CandraCangkul sebagai alat bekerja, berkarma, bekerja, ulet dan penuh perjuangan untuk menghidupi istri berdasarkan Dharma. Sedangkan Suwun-suwunan adalah tanggung jawab mempelai wanita, yang berisi talas, kunir, beras dan bumbu-bumbuan melambangkan tugas wanita atau istri mengembangkan benih, senantiasa memelihara keluarga diharapkan mampu setia dalam melayani suami. 
  5. Menusuk Tikeh Dadakan. Berlanjut dengan ritual pengantin pria dengan kerisnya menusuk atau merobek tikar kecil terbuat dari anyaman daun pandan muda (tikeh dadakan) yang dipegang mempelai wanita. Bila ditinjau dari sisi spiritual, anyaman tikar kecil pandan merupakan simbolisasi kekuatan Sang Hyang Prakerti (kekuatan Yoni); sementara keris adalah simbolisasi dari kekuatan Sang Hyang Purusa (kekuatan Lingga) dari pengantin pria. Secara filosofis ini merupakan kerja sama suami dan istri dalam menghadapi segala permasalahn untuk memecahkan setiap halangan atau kesulitan dalam rumah tangga.
  6. Memutuskan Benang ‘Pamegat’. Rangkaian prosesi dilakukan dengan menanam kunyit, keladi/ talas, dan andong di belakang merajan/ sanggah (tempat sembahyang yang keluarga), kemudian dilanjutkan dengan memutuskan benang putih yang terentang pada cabang dadap (papegatan). Ritual menanam adalah suatu simbol untuk menanam bibit untuk melanggengkan keturunan keluarga. Memutus benang putih bermakna bahwa kedua mempelai telah melampaui masa remajanya, dan kini memasuki kehidupan baru sebagai suami isteri.

Mengawali kehidupan sebagai pasangan suami isteri dengan kesucian. Itulah sebabnya, upacara Mekala-kalaan merupakan bagian terpenting dalam rangkaian upacara pernikahan Adat Bali. Upacara ini juga merupakan wujud pesaksian ikrar suci pasangan pengantin di hadapan Tuhan (Niskala) yang kemudian disaksikan para kerabat, saudara dan masyarakat (Sekala).


Mekala-kalaan juga identik dengan kata ‘Kala’ yang berarti waktu, ini tentunya bermakna bahwa upacara suci itu adalah sebuah momen (waktu) yang sakral bagi mempelai dan sangat berharga yang sejatinya tidak akan pernah terlupa oleh kedua mempelai.

Itulah filosofis Mekalan-kalan dalam tradisi Hindu Bali. Silakan baca juga tentang pernikanan nyentana dalam sistem pernikahan di Bali . Semoga artikel mekalan-kalan ini bisa menambah wawasan kita tentang budaya dan tradisi Hindu Bali. 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel